Arsitektur Rumah Tradisional Pacenan dan Potensi Sumber Daya Alam Bambu di Desa Klungkung Jember

Setelah melakukan observasi dan pengamatan di Desa Klungkung pada tanggal 16-18 Februari, kami menemukan dua hal yang masih memiliki nilai budaya tinggi, yaitu sebuah rumah yang masih menerapkan nilai-nilai tradisional, yang disebut sebagai Rumah Pacenan dan Pemanfaatan Bambu.  Rumah pacenan adalah salah satu jenis rumah tradisional yang saat ini masih banyak ditemui di kalangan masyarakat Desa Klungkung, Jember, Jawa Timur.

Rumah Pacenan berbentuk segi empat, jika dilihat pada atapnya, Rumah Pacenan hampir mirip dengan omah kampung (rumah adat Jawa). Di dalam pembangunan Rumah Pacenan ada yang berdiri sendiri dan ada juga yang bersambung dengan rumah pacenan lainnya, sehingga memanjang. Rumah pacenan ini memiliki sesakhah 8 buah yaitu 4 buah sesakhah utama dan 4 buah sesakhah pembantu. Sesakhah utama berguna sebagai penyangga atap yang berbentuk segi tiga. Pada bagian atap yang berbentuk segi tiga oleh masyarakat setempat disebut “antong-antong”.

  Terdapat antong-antong bagian depan dan antong-antong bagian belakang. Sesakhah pembantu berguna sebagai penyangga amparan, yaitu bagian atap rumah yang salah satu ujungnya bersambung dengan salah satu ujung yang membentuk segi tiga. Mirip antong-antong, terdapat dua amparan, yaitu amparan bagian depan dan amparan bagian belakang. Amparan ditopang oleh kayu yang memanjang yang oleh masyarakat setempat disebut plesur.

 

 

 

Bambu adalah salah – satu sumber daya alam yang memiliki banyak manfaat, mulai dari akar sampai pucuk daun. Dari akar yang berfungsi sebagai penahan tanah dan menyimpan air, tunas yang masih muda dapat dikonsumsi dan dimanfaatkan untuk berbagai macam masakan, daunnya dapat dianyam dan dijadikan kerajinan tangan yang indah, kemudian batangnya memiliki beribu – ribu manfaat mulai dari dapat dimanfaatkan sebagai bahan bangunan sebuah rumah, kerajinan tangan, meubel dan masih banyak yang lainnya.

Di desa Klungkung, Jember, terdapat berbagai macam jenis bambu yang tumbuh. Mulai dari jenis bambu yang memiliki diameter kecil dan yang berdiameter besar. Untuk bambu yang berdiameter kecil sendiri bernama Bambu Bulu, biasanya untuk bambu jenis ini dapat dimanfaatkan sebagai kerajinan tangan, sebagai alat musik yaitu seruling. Untuk bambu yang berdiameter besar adalah Bambu Petung, biasanya bambu ini dimanfaatkan untuk bahan konstuksi bangunan dan furniture karena keunggulan bambu ini yaitu memiliki batang yang besar dan kuat. Untuk jenis bambu yang lainnya adalah Bambu Ampel, Bambu Surat (memiliki ciri pada batangnya terdapat garis kuning) dan bambu tali. Tentu saja bambu itu juga dapat dimanfaatkan seperti bambu lainnya, dapat dimanfaatkan sebagai furniture, pagar rumah, penyangga atap rumah dan terdapat pengrajin bambu yang dapat mengubah bambu tersebut menjadi songkok atau peci dengan cara menganyam bambu tersebut hingga membentuk songkok. Namun pada saat kami berkesempatan untuk mengunjungi pengerajin tersebut, kami tidak dapat melihat pembuatan songkok secara langsung dikarenakan bukan musimnya untuk membuat songkok. Untuk musimnya sendiri adalah pada saat mendekati bulan Ramadhan.

Pada kunjungan kami di desa Klungkung, Jember, kami berkesempatan mendatangi salah – satu pengerajin bambu di desa tersebut. Beliau adalah pengerajin bambu yang membuat sesek atau dinding dari anyaman bambu. Beliau telah menekuni pekerjaan ini sudah lebih dari 10 tahun. Kami mencoba mewawancarai singkat beliau tentang cara membuat sesek dan kamipun berkesempatan untuk melihat langsung pembuatannya dan mencoba mempraktekkannya sesuai arahan dari beliau.

Kami membuat anyaman sederhana sebagai buah tangan untuk dibawa pulang ke surabaya. Untuk jenis bambu yang dipakai pada kesempatan itu adalah bambu ampel yang berdiameter kecil. Untuk langkah – langkah pembuatannya sendiri adalah yang pertama kami memotong bilah bambu kira kira sepanjang 1 meter kemudian membelah bambunya menjadi 3 bagian. Hasil pemotongan bambu tersebut kemudian dibelah tetapi tidak sampai putud dan masih menyisakan serat bambu yang masih tersambung dan kemudian bambu bibelah menjadi dua bagian agar lebih tipis agar dapat dianyam, tidak lupa ros bambu di buang. Untuk proses anyamannya sendiri berformasi satu bilah bambu dibawah kemudian dua bilah bambu melintang diatas, berulang secara terus menerus. Untuk baris kedua kita balik, yang pertama dua bilah bambu dibawah dan satu bilah bambu diatas, begitu terus sampai sesuai keinginan kita, selebar apa anyaman bambu yang diinginkan.

 

 

 

Laporan Duta Wisma Dewa Dewi Ramadaya: Ardiansyah (Mahasiswa Pendidikan Elektronik Unesa) dan Eko Rusadi (Mahasiswa K3 Universitas Airlangga)