Pemanfaatan Sumber Pangan untuk WAREG, Membangun Kekuatan Lokal Masyarakat Bali

Bali, dengan pengakuan UNESCO sebagai salah satu penyandang Word Heritage untuk Subak, jelas memiliki nilai kebudayaan berharga yang mestinya terus dijaga dan dikembangkan. Dengan sistem Subak, desa-desa di Bali mendapatkan pengairan yang optimal sehingga menumbuhkan sumber pangan dari bumi yang juga berkualitas.

Kunjungan saya ke Desa Tampak Siring, Bali, membuat saya menjadi lebih memahami tentang potensi sumber pangan dan olahan pangan di Bali. Dengan memanfaatkan tanah Tampak Siring yang sangat subur dan juga lahan terbengkalai, mereka berlomba untuk membudidaya bahan pangan organik. Metode yang mereka gunakan yaitu sistem irigasi air sawah Subak dan sistem Aquaponik untuk sayuran organik.

Ini hal-hal yang saya temui dan sangat bisa diolah menjadi pangan yang berkualitas untuk menguatkan masyarakat dalam menjalani kehidupan di era pandemi ini.

Beras Pulagan

Beras pulagan sendiri sudah dikenal hingga penjuru Nusantara sebagai beras kualitas bagus yang tentunya juga organik. Pertanian beras pulagan atau Subak di Desa Tampak siring juga telah mendapatkan penghargaan dari UNESCO sebagai World Heritage pada 29 Juni 2012.Yang membuat pertanian Subak Pulagan unik  yaitu sistem irigasi perairan dari sumber air dari Pura Menghening yang terbilang mencapai ratusan lebih mengairi lahan persawahan penduduk Tampak Siring. Sumber air Menghening telah memberikan kehidupan di Desa Tampak Siring selama puluhan tahun untuk digunakan sebagai kegiatan ritual umat Hindu Bali (melukat), pertanian dan budidaya ikan air tawar.

Wader Pari

Beberapa masyarakat Tampak Siring ada yang membudidaya ikan hias (Contoh Ikan KOI) dan juga ikan Wader. Untuk Ikan Wader, ada yang sengaja di budidaya untuk dijual atau dimakan sendiri untuk keluarga dan ada yang berkembang biak secara liar. Jenis ikan yang berpotensi di desa Tampak Siring yaitu ikan Wader Pari. Berbeda dengan ikan wader yang sering kita temui,ikan wader pari memiliki bentuk lebih lancip dan garis kuning di tengah tubuhnya. Untuk rasa dan testur daging wader pari sedikit lebih berasa manis dan bertekstur lebih lunak dari pada ikan wader umumnya.

Kunci sistem budidaya ikan Wader Pari dengan aquaponic, menyediakan nutrisi bagi tanaman dari kotoran ikan wader sebagai pupuk organik melalui proses biologis dan juga mencegah sayur terbebas dari hama tanah untuk makanan alami ikan wader tersebut.

 

Selada air/Watercress

Selain beras pulagan sebagai bahan pangan organik, sebagian masyarakat desa Tampak Siring sudah ada yang mencoba bercocok tanam selada air di masa pandemik virus corona. Para petani selada air ini ketika memanen tidak untuk dijual orang lain, melainkan untuk di konsumsi sendiri dengan ditumis atau juga menjadi hidangan plecing seperti halnya kangkung. Dengan memanfaatkan lahan persawahan di Subak yang masih banyak lahan yang tidak terpakai, mereka mencoba menanamkan benih selada air di atas sumber air dari Pura Menghening dan dibuatkan kolam kecil.  Alhasil mereka mendapatkan sumber pangan lebih dan juga dipercaya untuk mencegah virus corona karena akan kandungan vitamin A,Vitamin C dan Yodium. Sebuah penelitian tahun 2010 oleh University of Southampton menemukan bahwa bahan yang terkandung dalam selada air yakni phenylethyl isothiocyanate dapat menghentikan kanker payudara menyebar. Zat itu menghalangi pembentukan pembuluh darah baru sehingga mencegah tumor mendapatkan nutrisi untuk berkembang.

 

Bunga Kecombrang dan buah Honje

Tumbuhan Kecombrang di desa Tampak Siring, biasanya tumbuhan ini berkembang biak dan tumbuh secara liar di dekat lahan persawahan petani desa Tampak Siring. Tumbuhan kecombrang digunakan masyarakat Bali sebagai  bahan pangan khas yaitu sambel matah, campuran tumis sayur, dan sebagai  bumbu tambahan masakan keluarga.

Kecombrang yang biasanya diolah adalah yang bunganya berwarna merah. Pada saat eksplorasi kecombrang bersama salah satu petani desa Tampak Siring, kami menemukan sesuatu yang aneh dari kecombrang yang kita temukan. Berbentuk bulat hampir menyerupai nanas berwarna merah tua dan memiliki aroma kuat seperti bunganya kecombrang. Bli Gusti yang saya yang menemani saya mengatakan,  “Ini buah nya kecombrang dek kalau umurnya sudah tua pasti tumbuh ini tapi kami tidak tahu fungsi nya, biasanya kami biarkan atau tidak di buang”.

Setelah saya cari dari literatur  ternyata nama lain dari buah kecombrang adalah buah Honje. Honje  merupakan buah sejenis rempah yang dapat di jadikan obat-obatan, penyubur rambut, hingga sayuran pelengkap menu makanan. Untuk kandungan buah honje memiliki sifat anti kanker dan anti bakteri akibat antioksidan nya yang sangat tinggi. Zat berwarna merah di seluruh tumbuhan kecombrang yang berwarnah merah (termasuk honje) memiliki sifat antioksidan yang sangat tinggi mampu mencegah radikal bebas penyebab kanker.

Dari bahan-bahan natural yang ada di Desa Tampaksiring, saya mencatat beberapa makanan lokal khas yaitu Plecing kangkong, Nasi Campur, Lawar Bali, Sate Lilit, Babi guling, Sambal Matah Kecombrang. Sebagai chef, olahan-olahan itu menarik saya untuk membuat olahan bahan natural dengan gaya kekinian. Diantara itu semua, kecombrang memancing ide saya untuk membuatnya menjadi Moctail Kecombrang. Dengan tambahan madu, daun mint, kecombrang atau honje bisa menjadi moctail yang segar. Nanti deh, saya share resepnya di posting berikutnya ya.

 

Penulis: Hadi Wibowo (Chef Habo), Mahasiswa Pariwisata Universitas Airlangga, Duta Wareg Dewa Dewi Ramadaya