SERUNYA BELAJAR SHIBORI

Mewarnai kain atau baju sendiri adalah hal yang sudah sering dilakukan oleh masyarakat Indonesia dalam pemanfaatan wastra tradisional. Saat ini, teknik pewarnaan yang beraneka ragam dan minat masyarakat yang sangat luar biasa dalam hal ini membuat mereka sangat antusias menjadikan ini sebagai ladang bisnis, apalagi sekarang lagi musim banget yang namanya tie dye.

Eitsss, tapi jangan salah dulu gaisss, teknik pewarnaan kain tidak hanya ada teknik tie dye looo, ada juga yang namanya teknik shibori. Dua teknik ini sebenarnya hampir mirip sih, tapi mereka berbeda sebenernya. Teknik tie dye merupakan teknik mewarnai kain dengan cara mengikat kain dengan cara tertentu sebelum melakukan proses pencelupan, sedangkan shibori berasal dari kata 'shiboru' yang artinya memeras. Selain mengikat dan menyimpul, teknik memeras memang digunakan saat proses pembuatan kain shibori. Dan shibori karena lahir dari tradisi memiliki teknik-teknik dasar tertentu, serta selain mengikat kain juga menggunakan media lain, misalnya penjepit, kayu atau yang lain untuk menghasilkan pola. 

Sudah tahu kan bedanya sekarang? Nah kali ini aku bakal share pengalamanku waktu mencoba teknik shibori dengan pakai pewarna alami.

Untuk kainnya, kali ini aku pakai kain Primisima, yang merupakan kain katun dengan serat benang rapat, halus, dan tebal. Untuk pewarna alami yang aku pakai  adalah biji buah alpukat yang sudah direbus selama 1 jam. Sebelum ke proses pewarnaan, ada yang namanya proses mordanting. Teknik ini adalah proses untuk meningkatkan daya tarik zat warna alam terhadap bahan tekstil serta berguna untuk menghasilkan kerataan ketajaman warna yang baik. Bahan – bahan yang digunakan cukup mudah dicari, yaitu air, tawas, dan abu soda. Ketiga bahan ini direbus menjadi satu hingga mendidih lalu masukkan kain dan diaduk selama satu jam.

Tahap selanjutnya adalah proses pewarnaan, pewarna yang akan dipakai direbus dengan air 10 liter dan biarkan mendidih sampai air tinggal 4-5 liter. Lalu diamkan hingga dingin dan masukkan kain yang sudah diikat ke dalam pewarna.

 

 

 

 

 

 

 

Setelah proses pewarnaan, kita masuk ke tahap fiksasi atau penguncian. Bahan yang bisa dipakai adalah tawas, atau tunjung, atau kapur. Warna akhir yang dihasilkan pastinya berbeda-beda tergantung fiksasi yang kita pakai. Warna akan lebih terang jika menggunakan tawas dan akan lebih tua/gelap jika menggunakan tunjung maupun kapur. Nah fiksasi yang aku gunakan adalah tawas, maka warna yang dihasilkan menjadi coklat pucat.

Untuk teman – teman semua aku saran, pakai pewarna alami karena selain hemat kita juga ikut serta dalam metode Zero Waste. Buat kalian yang belum tahu apasih Zero Waste itu. Jadi Zero waste atau bebas sampah adalah sebuah konsep yang mengajak kita untuk menggunakan produk sekali pakai dengan lebih bijak untuk mengurangi jumlah dan dampak buruk dari sampah. Okay teman – teman kalo begitu sampai jumpa di Catatan Pagicerra selanjutnya, salam sayang. Semoga kalian semua sehat selalu, dadahhh 

Penulis: Fara Ayu Apriziaputri (Duta Nasional Wastra Dewa Dewi Ramadaya)