Desa Balesari di Lereng Gunung Kawi, Sebaran Situs Kuno dan Pengetahuan Tentang Harmonisasi Manusia dengan Alam Semesta

Balesari merupakan salah satu desa yang terletak di kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.  Umumnya, orang lebih mengenal desa ini sebagai Gunung Kawi karena lokasinya yang berada di lereng Gunung Kawi. Selain itu Balesari juga sering dikenal karena memiliki berbagai tempat ikonik yang  dipercaya banyak orang sebagai tempat suci dan dapat memberikan banyak manfaat bagi mereka.

Kunjungan kami ke Balesari disambut dengan antusias para Duta Desa yang masih berumur belasan tahun. Kami sempat berbagi tentang 8 unsur kebudayaan, kemudian bersama-sama mereka menyusur tempat-tempat yang memiliki cerita sejarah.

Menurut Kepala Desa Balesari, masyarakat Desa Balesari masih menjunjung tinggi nilai-nilai ‘Kejawen’. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya adat jawa yang masih digunakan di Balesari seperti upacara bersih desa dan upacara bersih dusun atau yang biasa disebut dengan Merti Dusun.

Merti Dusun dilaksanakan tiap-tiap dusun sebagai bentuk membersihkan dusun dengan harapan dapat menghindarkan dusun dari macam-macam bahaya. Setiap dusun memiliki susunan acara dan pelaksanaan yang berbeda berdasarkan hari baik yang dipercaya tiap-tiap dusun. Perhitungan hari baik itu berdasarkan penanggalan Jawa.

Perhitungan Jawa ini juga masih banyak dipercaya warga dalam menentukan hari-hari penting. Misalnya hari pernikahan, hari pindah rumah bahkan hari memetik tanaman. Di Balesari ada yang disebut sebagai Aboge, yaitu sebuah panduan hitungan dengan kalender Jawa untuk menentukan hari-hari penting.

Aboge dipegang oleh para sesepuh dan diwariskan turun temurun. Aboge memang tidak dipegangkan atau diajarkan pada sembarang orang, hanya pada keturunan. Para sesepuh yang dipercaya memahami seluruh perhitungan ini kerap didatangi oleh warga jika mereka akan melangsungkan pernikahan, pindah rumah atau hal lain yang menurut mereka mengikuti perhitungan hari.

Menariknya, salah satu hitungan yang juga diberlakukan di beberapa dusun adalah waktu petik tanaman. Untuk tanaman berjenis daun dan tanaman berjenis kayu memiliki hari yang berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa perhitungan Aboge merupakan sistem pengetahuan warisan leluhur yang mengedepankan konsep harmonisasi manusia dengan alam sekitarnya. 

Para anak muda di Balesari mengetahui tentang perhitungan ini, namun karena pengetahuan ini diajarkan secara turun temurun dan baru diturunkan ketika sesepuh yang memegang pengetahuan itu akan meninggal, maka tidak banyak yang mengetahui cara perhitungannya.          

Kepada Desa Balesari menyadari bahwa warganya sebagian besar menganut kepercayaan Kejawen. Karena itu beliau selalu mendukung hari-hari dengan perhitungan Jawa dilaksanakan di dusun-dusun, bahkan beliau selalu berusaha untuk terlibat dalam pelaksanaannya. Ketika kami singgung dengan pemahaman desa ramah anak, beliau sangat mendukung dan melindungi anak-anak dari kekerasan. Selama ini kasus kekerasan pada anak yang terjadi di Desa Balesari, beliau ikut terlibat dalam perlindungan dan penyelesaiannya. Namun memang belum ada aturan tentang perlindungan anak di desa Balesari, sehingga saat ini penyelesaian yang dilakukan adalah dengan cara kekeluargaan.

Di Balesari, berbagai tempat yang dianggap sebagai tempat suci menambah nilai kaya budaya di desa tersebut. Balesari memiliki sumber air yang dikenal dengan nama Sumberjodo. Sumberjodo tersusun dari dua kata yaitu sumber (tempat keluarnya air) dan jodo/jodoh (pasangan). Sumberjodo mengaliri 4 dusun di Balesari.

Keampuhan Sumberjodo untuk kesembuhan dan tempat yang representative untuk mendekatkan pada Sang Pencipta ternyata didengar oleh banyak orang. Alkisah, setelah ada keluarga dari etnis China yang mendapatkan berkah dari tempat itu dan segala kesulitannya dapat terselesaikan sehingga sebagai ucapan terima kasih ia membangun altar dengan arsitektur Cina. Meskipun demikian, bangunan ini masih digunakan oleh orang-orang berbagai kepercayaan.

Beberapa menit dari lokasi Sumberjodo, terdapat sumber air lain yang dikenal dengan nama Sumbermanggis. Sumbermanggis memiliki jalan yang terhubung dengan Pesarean Gunung Kawi, tempat ziarah dan wisata spiritual berbagai wisatawan lokal dan mancanegara. Dari Sumbermanggis menuju pesarean Gunung Kawi, kami menempuh jalan menanjak dengan tangga sekitar satu kilometer, melewati rumah-rumah warga.

Dari perjalanan ini kami menyadari, Sumbermanggis adalah juga jalur penghubung antar desa. Sumbermanggis terletak di Balesari sedangkan pesarean Gunung Kawi terletak di desa Wonosari. Sumbermanggis juga dikenal dengan Pemandian Eyang Djoego. Eyang Djoego merupakan guru dari Raden Mas Imam Soedjono, salah seorang keturunan Sri Sultan Hamengkubuwono. Raden Mas Soedjono dulu diperintahkan untuk melakukan babat alas di lereng selatan Gunung Kawi dengan tujuan menyebarkan agama islam.

Konon katanya saat melakukan babat alas, Raden Mas Soedjono mencari air untuk berwudhu. Beliau mengetuk sebuah batu besar dan dari bawah batu itu keluar air jernih yang tidak pernah kering hingga sekarang. Setelah itu Beliau menanamkan benih manggis. Karena kepiawaiannya dalam bercocok tanam, pohon Manggis tersebut bertahan dalam waktu yang lama. Menurut juru kunci Sumbermanggis saat ini, bagian bawah pohon telah mati namun bagian atas pohon tetap hidup. Karena pohon itulah pemandian Eyang Djoego dikenal sebagai nama Sumbermanggis.

Dari kisah ini pula kami menyadari, sebenarnya jalur anak tangga penghubung itu menyimpan kisah napak tilas para leluhur ketika menemukan dan membuka tempat itu. Saat ini kondisi Sumbermanggis yang tercepit diantara rumah-rumah warga, terbilang sepi. Air ditampung dalam ruang-ruang seperti kamar mandi untuk tempat bersuci. Kami membayangkan, jika saja luapan sumber air itu dibangun seperti bentuk patirtan, sehingga memungkinkan pengunjung bisa berendam dalam air dari sumber, tentu pengunjung akan mendapatkan lebih banyak manfaat dari sumber ini. Maka pengetahuan masa lalu yang telah dibuka oleh para leluhur akan lebih bisa diterima maknanya oleh generasi sekarang.

Sekitar 4 KM dari Sumbermanggis, terdapat sebuah tempat yang dikenal dengan nama Kraton Gunung Kawi. Kraton Gunung Kawi telah dikenal sejak abad ke-7, yaitu pada zaman Mpu Sendok. Mpu Sendok adalah orang yang menurunkan raja-raja besar termasuk Airlangga. Leluhur Agung atau Roh suci yang dipercaya ada di Kraton Gunung Kawi adalah Eyang Tunggul Manik dan Eyang Tunggul Wati. Kraton Gunung Kawi juga menyimpan sejarah tentang Prabu Kameswara. Tempat ini dipercaya sebagai petilasan dan tempat moksanya Prabu Kameswara. Beliau adalah salah satu raja Kediri keturunan Airlangga. Dari beliaulah kemudian munculah cerita dan tradisi Panji yang menjadi ciri khas Jawa Timur.

Kraton Gunung Kawi merupakan tempat tetirah sekaligus tempat berdoa kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan konsep dasar spiritual. Seiring dengan perkembangan zaman di Kraton Gunung Kawi saat ini terwujud bangunan tempat-tempat ibadah berbagai keyakinan yang ada di Indonesia saat ini yaitu :

  1. Pura, yang dibangun pada tahun 2001 dan mengalami renovasi pada 2012
  2. Vihara, dibangun pada 1978 dan direnovasi pada tahun 2010
  3. Gereja, terletak diluar kraton yaitu sebelum tempat parkir. Dibangun pada tahun 2017
  4. Masjid, terletak disebelah kiri tempat parkir kraton. Dibangun pada tahun 2018

Sayangnya Kraton Gunung Kawi telah mengalami banyak perubahan dan perombakan pada arsitekturnya. Anto, warga yang sempat menetap di kawasan Kraton menjelaskan step-step yang seharusnya ada di Kraton Gunung Kawi.

- Step 1: Memasuki Gerbang Depan

Terdapat dua pohon besar yang berdiri tegak lurus beberapa meter di depan gerbang kraton. pohon ini merupakan tanda atau gerbang masuk ke dalam kawasan Kraton Gunung Kawi. Pembukaan jalan untuk kendaraan di samping pohon ini membuat pohon itu tidak lagi dianggap sebagai gerbang. 

- Step 2 Penjaga Kraton

  Bangunan ini dipercaya sebagai penjaga Kraton, maka biasanya peziarah menyampaikan izin terlebih dahulu  di tempat ini sebelum memasuki Kraton. 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

-Step 3 : Berjalan menuju Kraton

Jalan naik agak panjang setelah step 2, saat ini difungsikan  sebagai tempat parkir dan warung untuk pengunjung Kraton.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

- Step 4: Gerbang Kraton Prabu Kameswara

Gerbang ini sebenarnya bangunan baru, tetapi menjadi penanda mulai memasuki Kraton.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Langkah berikutnya adalah mengikuti jalur lurus menuju ke atas, tempat pamoksaan.

Pemahaman mengenai akar sejarah dari Kraton Gunung Kawi ini memberikan penandasan bagi kami bahwa Gunung Kawi yang dikenal sebagai tempat mencari pesugihan menjadikan tempat ini kehilangan fungsi sebenarnya. Banyak masyarakat generasi sekarang datang ke Gunung Kawi untuk mencari sugih atau kaya, namun justru menghilangkan fungsi cagar budaya yang sebenarnya.

Menurut Anto, di puncak Gunung Kawi sendiri terdapat satu altar batu bertuliskan huruf kuno yang belum tersentuh perlindungan. Banyak situs kuno yang bertebaran di desa ini membuat kami berharap agar pelestarian situs dan kisah sebenarnya dari peninggalan tersebut bisa dimaknai oleh anak-anak muda seperti kami, sehingga mampu menjaga sejarah dan mengambil nilai makna dari temuan tersebut secara lebih bijak.

Peneliti dan Penulis: Betzy Alimanda (Mahasiswi Unesa, Duta Waskita Dewa Dewi Ramadaya) dan Ranau Alejandro (Mahasiswa Antropologi, Duta Wicaksana Dewa Dewi Ramadaya)