Menelusuri Wasis, Pendidikan Non Formal Berbasis Kebudayaan, di Malang

Pada akhir Februari lalu, kami melakuan penelusuran sekaligus sosialisasi mengenai unsur 8W, terutama yang berkaitan dengan WASIS atau pendidikan di wilayah dampingan Malang Raya, yaitu Balesari, Kabupaten Malang dan Bulukerto, Kota Administrasi Batu.

Kedua wilayah ini memiliki topografi yang hampir sama, yaitu lereng gunung, namun, kondisi sosial masyarakat diantara keduanya berbeda. Akses dan kemudahan penghubung antara satu tempat ke tempat lainnya menjadi pembeda antara kedua desa ini. Berikut ini hasil penelurusan kami di kedua desa tersebut.

Desa Balesari,  merupakan desa yang memiliki banyak potensi pendidikan non-formal di lingkungannya, sebab desa tersebut berada di tempat yang kaya akan kebudayaan. Masyarakat setempat pun sangat antusias sekali melestarikan kebudayaannya. Beberapa potensi seperti kesenian tari, pencak silat, dan TPQ di setiap dusun yang berada di desa Balesari sangat banyak, tak heran jika banyak masyarakat Balesari akrab dengan berkegiatan pendidikan non-formal di luar kegiatan pendidikan formal.

Penelusuran pertama kami menuju ke dusun Gendogo. Menurut para Duta, dusun tersebut teridentifikasi memiliki kegiatan pendidikan non-formal di sektor kesenian. Bersama lima anak duta desa, kami mendatangi rumah seorang pemilik paguyuban, Suroso. Menurut beliau terkait dengan pendidikan non formal di dusun Gendogo, terdapat paguyuban Laras Budaya, yang aktif melestarikan kesenian Jaran Kepang.  Awal berdiri,  tahun 2003, tercetus sebagai kegiatan ekstrakulikuler di sekolah, sampai memiliki cabang dan sudah legal atau ada izin. Kemudian seiring berjalannya waktu anak-anak yang sudah lulus dilihat tidak begitu berperan di masyarakat karena banyak yang memilih putus sekolah dan akhirnya tidak berkembang.

Pada tahun 2013, Suroso akhirnya mengaktifkan kembali kegiatan paguyuban tersebut, beranggotakan masyarakat sekitar dan alumni sekolah yang tidak melanjutkan sekolahnya dan mengganti nama paguyuban tersebut menjadi Turonggo Laras Budaya. Paguyuban ini  di tahun 2013–2019 berkembang dengan  program latihan, serta sering menerima pentas di masyarakat yang punya hajat. “Kalau orang yang minta hajat siang malam, biasanya yang siang diisi oleh anak sekolah yang masih kecil-kecil, yang malamnya baru yang main dewasa-dewasa atau masyarakat umum yang bergabung di Turonggo Laras Budaya” tutur Suroso.

Karena adanya pandemik yang terjadi pada awal maret tahun 2020 seluruh kegiatan tidak boleh dilakukan dan terpaksa harus vakum. Untuk mengisi kegiatan yang vakum, Paguyuban ini membuat kesepakatan berkumpul setiap satu bulan sekali, sekadar silaturahmi supaya tidak putus dan paling tidak punya rasa tanggung jawab terhadap paguyuban. Di sisi lain, Suroso tetap mengupayakan latihan di sanggar seni supaya murid-murid atau anggota kesenian tidak lupa terhadap pembelajaran yang diajarakan sebelumnya. Masyarakan Desa Balesari tersebut sangat tertarik sekali dengan kegiatan kesenian ini, namun kondisi sekarang yang mengharuskan vakum dan tidak berani untuk tampil.

Setelah diskusi dengan Suroso terkait kegiatan non-formal didusun Gendogo, kami kemudian melanjutkan lagi menemui ustadzah dari dusun Nanasan guna mengidentifikasi TPQ di desa Balesari. Menurut keterangan ustadzah kegiatan non-formal terkait agama sangat banyak sekali, karena masyarakat Balesari banyak juga yang muslim sehingga banyak yang berminat di kegiatan agama tersebut.

Dalam penelusurn ini kami mencatat satu hal, pendidikan bagi anak-anak di desa Balesari masih sangat terbatas. Banyak anak yang tidak melanjutkan sekolahnya ke jenjang pendidikan lanjut karena jarak rumah dan sekolah yang sangat jauh. Rata-rata pendidikan yang ditempuh masyarakat Desa Balesari hanya sampai tingkat SMP. Sehingga kebanyakan sumber daya manusia (SDM) di Desa Balesari sangat minim sekali terhadap pengetahuan formal.

Hal ini menjadi dasar ketidaktertarikan mereka pada pendidikan yang sifatnya formal dan kaku. Awalnya, ketika kami memberikan penjelasan terkait Merdeka Belajar para Duta cenderung mengabaikan atau menganggap seperti hal yang sangat biasa pada program tersebut, begitu pula dengan relawannya. Mereka masih sangat pasif untuk pengembangan pendidikan bagi anak-anak.

Bagi kami, hal ini justru bukan menjadi halangan. Kosongnya ruang pendidikan menurut kami justru harus dilengkapi dengan pendidikan non formal dan berbasis kebudayaan. Merdeka Belajar sebagai salah satu bentuk dari WASIS bisa dilaksanakan dengan metode yang lebih menyenangkan dengan melibatkan unsur para pemangku kebudayaan setempat.

Desa Bulukerto merupakan salah satu desa wisata yang terdapat di kawasan Batu, potensi pendidikan formal dan non-formal pada desa tersebut bisa disimpulkan sangat maju. Tidak ada hal yang bisa dijadikan alasan anak-anak untuk tidak mendapatkan sebuah pendidikan. Sebab bantuan-bantuan terkait pendidikan pada anak-anak desa Bulukerto yang dikeluarkan oleh pemerintahan sangat mencukupi. Potensi-potensi pendidikan pun bervariasi, tidak ada kendala yang serius sekali terkait pengaplikasian sebuah pendidikan.

Saat kami melakukan sosialisasi terkait kegiatan Merdeka Belajar pada para Duta dan relawan, kami mencacat bahwa para Duta sangat antusias sekali terhadap program Wasis. Para Duta mulai memahami atas perannya sebagai Duta. Tak hanya itu, setelah sosialisasi kami juga melakukan review kembali dari materi modul Partisipasi Anak dan Remaja Melawan Eksploitasi Seksual yang sudah dipelajari, mulai dari unit 1 hingga unit 7, reaksi para duta sangat baik sekali mereka memberikan timbal balik saat kami melontarkan pertanyaan kepada para duta terkait materi yang sudah di pelajari.

Pemahaman para Duta Bulukerto sangat variatif sekali, ada yang memahami betul materinya, ada yang lumayan memahami, bahkan juga ada yang sedikit lupa tentang materinya. Saat kami bertanya mengenai apa kendala yang mereka hadapi saat mempelajari modul duta dewa dewi ramadaya, mereka melontarkan bahwa ada yang senang sekali karena ada praktiknya, dan ada yang merasa bosan karna banyak materinya. Kami terus memberikan masukan-masukan yang lebih partisipatif agar para Duta juga tidak kebingungan saat belajar modul duta dewa dewi ramadaya.

Kami juga mengidentifikasi kegiatan non-formal di desa Bulukerto. Menurut para Duta kegiatan non-formal di Bulukerto ada dua, yakni di Sanggar Tribuana, dan Sanggar Larasati. Sanggar Tribuana  merupakan tempat Nanda, salah satu relawan Alit melatih jaranan.  Anggota yang tergabung di sanggar tersebut meliputi anak-anak dan orang dewasa (umum). Di masa pandemi ini sanggar Tribuana tetap melakukan aktivitas kegiatan berlatih, namun masih tetap mematuhi protokol kesehatan, yaitu membatasi anggota yang berlatih, dan sudah terjadwal rata.

Sedangkan di Sanggar Larasati, merupakan tempat berlatih karawitan tiga orang Duta. Sanggar ini terbentuk saat masa pandemi guna memanfaatkan dana desa Bulukerto, usia sanggar pun kurang lebih masih 2-3 bulan. Dan jadwal latihannya setiap Sabtu, serta anggotanya ada anak-anak, ibu-ibu, hingga bapak-bapak.

Minat yang ada di kalangan para anak-anak muda di Bulukerto ini menjadi bekal untuk memajukan WASIS di desa mereka. Kali ini kami datang untuk mengidentifikasi, lain waktu kami akan datang lagi dengan berbagai kegiatan pendidikan nonformal untuk mengisi ruang pendidikan yang kosong masa pandemi ini. Bersama dengan para Duta dan anak-anak di kedua desa. Agar hak pendidikan anak tetap terpenuhi. Meskipun dalam bentuk pendidikan non formal, namun semangat yang ada dalam Merdeka Belajar dan WASIS akan bisa membantu mereka bertahan dengan mengadopsi berbagai macam pengetahuan. Tunggu ya aktivitas kami selanjutnya. Salam Wasis.

Penulis: Rahma Nur Likha, Mahasiswi Antropologi Universitas Airlangga, Duta WASIS Dewa Dewi Ramadaya