SURABAYA — Masalah gizi pada anak seperti tak ada habisnya. Menyoroti maraknya fenomena anak yang gemar mengonsumsi ultra-processed food atau camilan tinggi gula, BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional) mengungkap Data Survei Kesehatan Indonesia tahun 2023 menunjukkan prevalensi kegemukan dan obesitas sekitar 19,7% pada anak usia 5-12 tahun dan 16% pada anak usia 13-15 tahun. Tentu ini merupakan ancaman malnutrisi yang serius pada anak.
Kebiasaan makan yang berisiko ini pun memiliki dampak jangka panjang terhadap masa depan generasi bangsa. Kandungan zat aditif yang berlebih seperti pengawet, pewarna buatan, tinggi natrium, dan gula memengaruhi daya tahan tubuh anak, meningkatnya risiko stunting, hingga gangguan perkembangan kognitif. Lebih dari itu, penyakit orang dewasa pada usia dini seperti obesitas anak, sindrom metabolik, dan diabetes tipe 2 juga menjadi ancaman nyata di balik piring yang salah.
Di balik sederet risiko konsumsi makanan rendah nutrisi tersebut, Kemenkes mengungkap beberapa faktor yang menjadi penyebab anak tetap memilih untuk mengonsumsinya, antara lain anak sudah dapat memilih makanannya sendiri, kehilangan selera makan karena kelelahan aktivitas, kebiasaan jajan, serta pengetahuan gizi yang kurang. Faktor ini kian diperparah oleh agresifnya iklan makanan, pengaruh teman sebaya, hingga kemudahan akses jajanan di sekitar rumah dan sekolah.
Menghadapi gempuran faktor eksternal tersebut, pola makan yang terkontrol menjadi benteng utama agar buah hati tetap mendapatkan nutrisi yang mencukupi fase tumbuh kembangnya. Di sinilah peran rumah tangga masuk. Kontrol terbaik dapat dimulai dari dapur sendiri, di mana menyajikan masakan rumahan menjadi langkah yang sangat krusial. Melalui masakan rumahan, ibu memiliki kendali penuh atas higienitas, kualitas bahan baku, serta takaran garam, gula, dan lemak yang dikonsumsi anak. Peran ini pun fleksibel bagi ibu yang bekerja sebab esensinya terletak pada kontrol ibu terhadap menu domestik. Sebagai “manajer gizi” keluarga, ibu lah yang paling memahami preferensi dan kebutuhan spesifik tumbuh kembang anak.
Di samping hal tersebut, kebiasaan memasak bersama buah hati juga menunjukkan dampak fisik dan psikologis yang nyata. Melansir dari laman Halodoc, aktivitas ini terbukti dapat mempererat kedekatan emosional (bonding) dan memicu ketertarikan anak pada makanan sehat. Selain meningkatkan pengetahuan gizi serta kemampuan motorik anak, kebiasaan positif ini juga akan membentuk pola makan sehat yang terbawa hingga mereka dewasa. Oleh karena itu, investasi gizi terbaik memang harus dimulai dari dapur rumah. Kesehatan anak di masa depan ditentukan oleh apa yang tersaji di atas piring mereka hari ini.