SURABAYA ― Menghadapi maraknya konsumsi makanan instan (ultra-processed food) dan jajanan tidak sehat pada anak-anak, Yayasan ALIT menginisiasi program kebun terpadu bernama BERISIK (Berkebun Itu Asik) sebagai langkah konkret pemenuhan gizi anak sekaligus penguatan perlindungan anak berbasis komunitas. Program wajib ini diterapkan untuk semua anak guna menjamin hak dasar tumbuh kembang dan ruang edukasi.
Gerakan ini telah berjalan masif di berbagai wilayah, meliputi Surabaya, Bromo (Pasuruan), Jember, Banyuwangi, Sumenep, Bali (Tampak Siring), dan Flores. Program kebun terpadu ini diimplementasikan di tiga zona utama: sekolah, komunitas, dan rumah. Hingga April 2026, tercatat sebanyak 267 rumah kini telah aktif bercocok tanam sayuran dan rempah secara mandiri menggunakan bibit hasil penyemaian kebun komunitas.
Di zona sekolah, aktivitas berkebun diintegrasikan ke dalam pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/ECD). Anak-anak dilatih merawat tanaman, sementara para orang tua membantu mempersiapkan lahannya. Menariknya, hasil panen dari kebun ini tidak dibiarkan begitu saja, tapi langsung dihilirisasi menjadi bahan utama kelas memasak (Cooking Class). Di Surabaya, Bromo, dan Flores, menu hasil kebun seperti olahan ikan, telur, sayur, hingga produk populer “Nugget Ikan-Sayur”, yang berhasil memotong ketergantungan anak pada makanan instan dan ultra-processed food.
Program ini membawa pengaruh luar biasa dalam menanamkan tanggung jawab dan kepedulian lingkungan pada anak sejak dini. Di samping itu, peningkatan status gizi anak melesat tajam. Dari 601 anak penerima manfaat, sebanyak 256 anak kini rutin membawa kotak bekal sehat dan berhenti jajan sembarangan di sekolah. Di Jember, kampanye makanan sehat ini diperkuat lewat pemantauan isi bekal setiap hari Sabtu.
Selain perbaikan nutrisi, program ini berhasil mempererat keharmonisan keluarga dan menekan angka kekerasan terhadap anak akibat kesalahan pengasuhan. Sebanyak 460 orang tua terlibat aktif, termasuk 58 ayah yang kini gemar menemani anak bermain, mendongeng, dan berkebun di rumah. Sehingga, berdampal tergadap menurunnya secara drastis kasus tantrum pada anak dampingan ALIT.
Keberhasilan gerakan BERISIK juga mendapatkan dukungan penuh dari pemerintah daerah. Seperti di Bromo, BERISIK diadopsi sebagai percontohan “Desa Layak Anak” tingkat nasional. Sementara di Tampak Siring, Bali, pemerintah desa bersinergi dengan Banjar (Desa Adat) untuk menggerakkan program BERISIK dan tradisi “Olah-Olah” demi mewujudkan ketahanan pangan keluarga. Melalui sejengkal tanah pekarangan, Yayasan ALIT membuktikan bahwa ketahanan pangan mandiri mampu membangun karakter dan kesehatan generasi masa depan.