Pemuda di wilayah yang menjadi lokasi kerja ALIT pada proyek sebelumnya, yaitu Surabaya, Bromo, Bali, Flores, Jember, Banyuwangi, dan Sumenep, akan didorong untuk menciptakan situasi yang lebih positif dalam menghadapi persoalan kelaparan di tingkat makro di masing-masing kabupaten/kota. Mereka akan memiliki kesempatan untuk berperan dalam sektor produksi sebagai wilayah pemasok (rural/pedesaan) maupun dalam sektor promosi dan pemasaran di wilayah permintaan (urban/perkotaan), yang saling terhubung dalam satu kelompok usaha.
Desa sebagai wilayah pedesaan akan menjadi pusat produksi berbagai produk pertanian dan pangan, seperti sayuran organik, buah-buahan, bunga, telur, daging, ikan, pupuk organik, benih, minyak dan gula kelapa, garam laut, tanaman herbal, tisane, kopi, serta rempah-rempah. Sementara itu, wilayah perkotaan seperti Surabaya, Ubud–Gianyar di Bali, atau pusat kota di Kabupaten Banyuwangi akan menjadi wilayah yang berperan dalam pemasaran dan pemenuhan kebutuhan konsumen. Berbeda dengan Bromo, yang sebagian besar wilayahnya merupakan kawasan pedesaan, sehingga membutuhkan koneksi langsung dengan kota terdekat, termasuk Surabaya.
Pemuda yang sebelumnya terpilih sebagai Duta Desa Dewa Dewi Ramadaya akan melanjutkan minat dan keterlibatan mereka melalui peningkatan keterampilan teknis dalam produksi produk desa di wilayah pemasok, serta pengembangan kemampuan penjualan dan pemasaran bagi mereka yang tinggal di wilayah permintaan (perkotaan). Sebanyak 1.000 duta pemuda desa akan dilibatkan dalam proyek selanjutnya.
Program ini dirancang untuk mendukung 1.200 pemuda agar mampu merespons persoalan kelaparan melalui pendidikan keterampilan kewirausahaan berbasis pengetahuan budaya, dengan tujuan memperkuat ketahanan masyarakat. Penguatan ketahanan masyarakat dilakukan melalui pengembangan kemampuan pemuda untuk membangun kemandirian dan menjadi wirausahawan yang menghubungkan wilayah pedesaan dan perkotaan dengan pendekatan modern, termasuk pemanfaatan platform daring, prinsip perdagangan yang adil (fair trade), dan praktik pertanian organik. Pendekatan ini diharapkan dapat menghadirkan model yang berbeda dari pola pertanian konvensional sebelumnya.
Hasil yang Diharapkan
Pelaksanaan program diharapkan dapat meningkatkan kondisi dan kapasitas 1.000 pemuda di 8 kabupaten/kota di Jawa Timur, Bali, dan Flores, dengan fokus pada beberapa tujuan utama:
I. Kesiapan Pemuda
Meningkatkan kesiapan pemuda usia 16–18 tahun untuk terlibat dalam kegiatan produktif berbasis produk desa, baik secara mandiri maupun melalui kelompok usaha.
II. Pengembangan Sistem Usaha Produk Desa oleh Pemuda
Membangun sistem usaha produk desa yang dikelola oleh pemuda dan memiliki dasar legalitas yang dapat mendukung pelaksanaan program magang sebagai bagian dari pendidikan bagi siswa sekolah menengah, sekaligus menjadi sarana praktik bisnis bagi pemuda dewasa usia 19–25 tahun. Sistem ini akan dikembangkan melalui keterhubungan dengan dunia usaha dan kamar dagang/industri di 3 provinsi.
III. Gerakan Pemuda untuk Keberlanjutan
Mendorong gerakan pemuda yang berkaitan dengan isu kehidupan berkelanjutan, khususnya persoalan ekologi dan lingkungan, perdagangan yang adil untuk produk pertanian, serta dampak pengangguran di kalangan pemuda pada tingkat nasional.