1. Pranata Mangsa
Memperomosikan pengunaan kembai kalender asli jawa Pranata mangsa yang telah dilarang penggunannya sejak era kepemimpinan Sultan Agung Hanyokrokusuma sebagai bagian atas islamisasi tanah temt tidaklah mudah. Namun penggunaan kembali kalender ini sangatlah penting untuk mengembalikan tradisi bertani dan nelayan agar lebih mudah beradaptasi dengan situasi alam dimana dalam perhitungan kalender Pranata mangsa
Tradisi tentu tak bisa terlepas dari kalender sebab kalender menentukan aktivitas harian masyarakatnya. Cara hitung dalam penanggalan juga tak bisa dilepaskan dari letak/posisi geografis stempat pada titik bujur timur, selatan, barat dan utama di bumi diukur dari posisi terhadap matahari dan bulan, sangatlah berpengaruh pada perjalanan durasi Cahaya matahari yang berpenagruh pada hitungan malam dan siang serta pergantian hari.
Ketika kalender bangsa ini selanjutnya tidak menggunakan dasar hitungan posisi kita berpijak pada berapa derajat lintang selatan dan utara tetapi menggunakan ukuran posisi dari bangsa lain yang jelas berbeda letaknya terdapa matahari dan bulan, maka tentu berdampak pada kesalahan hitung yang menyebabkan banyak kegagaln dalam perhitungan musim (salah mangsa). Kesalahan dalam menghitung musim sangat berpengaruh pada gagal tidakmya dalam pertanian, ternak dan hasil laut. Dampak lebih lanjut yang muncul kemudian adalah rekayasa musim sehingga membutuhkan intervensi bahan kimia yang berlebihan demi mendapatkan hasil pertanian yang optimal, dan tentu saja kini kerusakan lingkungan makin terasa termasuk meningkatnya panas bumi.
Maka itulah penting kiranya menbudayakan kembali penggunaan kalender Pranata Mangsa pada kehiduan masyarakat nusantara khususnya pada masyarakat yang mendiami pulau Jawa. Melalui pembuatan media literasi yang memadai agar generasi muda dan publik secara umum mengenal kembali cara hitung penanggalan asli Jawa yang telah beratus ratus abad menjadikan Nusantara Subur permai.
2. Ujung Galuh
Kegiatan ini bertujuan untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat Surabaya, khususnya generasi muda tentang sejarah kelahiran Surabaya dan menjadi identitas yang jelas tentang karakter “Arek-arek” Suroboyo dalam kehidupan sosial berbangsa. Melalui menyusun kembali naskah sejarah menjadi naskah pertunjukan operet yang dapat ditampilkan di banyak perhelatan acara peringatan hari-hari besar nasional maupun saat perayaan hari lahir Kota Surabaya. Kesadaran kolektif sebagai warga Surabaya yang akan terus tertanam di hati dan jiwa anak-anak muda ini kelak akan menjadi modal yang sangat penting bagi kemajuan bangsa Indonesia.
Penyusunan naskah akan dilakukan bekerja sama dengan perguruan tinggi, terutama jurusan Sejarah dan Antropologi Budaya Universitas Airlangga. Hasil naskah yang telah disusun akan didiseminasikan dan kemudian mendapat respon oleh para pelaku seni teater. Masukan tersebut akan digunakan agar naskah mudah dipraktekkan secara mandiri oleh kelompok anak-anak di seluruh wilayah Jawa Timur. Naskah akan dipraktekkan bersama anak-anak melalui proses rekrutmen dan audisi pemeran yang akan bekerja sama dengan sekolah-sekolah serta beberapa sanggar seni. Proses latihan akan dilaksanakan bersama Dewan Kesenian Jawa Timur. Sejumlah anak akan direkrut untuk mengikuti latihan hingga tampil dalam pentas operet berjudul “Perang di Ujung Galuh Babat Kawit Surabaya” yang melibatkan ratusan anak untuk mengingat skala cerita sejarah perang tersebut. Latihan akan berlangsung tiga kali seminggu secara tatap muka.
Pentas akan diselenggarakan di Kota Surabaya, misalnya di Gedung Kesenian Surabaya, bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan pada tanggal 10 November. Acara ini akan mengundang tokoh sejarah, pemerintah kota dan provinsi, perwakilan negara sahabat, serta sekolah-sekolah. Hasil pementasan akan didokumentasikan sesuai standar dokumentasi pertunjukan dan diunggah ke akun resmi media sosial tim operet ini. Selain itu, naskah dalam bentuk rekaman suara akan diunggah di platform daring seperti Spotify sebagai drama radio, sehingga dapat didengarkan kapan saja secara gratis oleh warga Surabaya maupun masyarakat seluruh Indonesia.
3. Garudeya
Di setiap candi memiliki makna filosofis yang sangat tinggi dengan keberadaan arsitekturnya, arca arca serta relief. Makna dari seluruh bdan cakni itulah menjadikannya sebagai bangunan yang diistimewakan oleh para pendiri dan pemakaianya di masa lalu sebab gambaran filosofis di candi ini menjadi tuntutan bagi para pemimpin kerajaan dan rakyatnya. salah satunya yang tergabar di candi Kidal, di kabupaten malang. Candi yang dibangun d masa kerajaan Singhasari ini memiliki gambar relief yang menceritakan tentang kisah sang Garudeya. Cerita sang Garudeya oleh panitia Lencana Negara yang dipimpin Bung Karno merancang lambang negara berdasarkan pertimbangan keagungan, budi luhur dan semangat yang. Mencerminkan kepribadian bangsa. Cerita Sang Garudeya mencari tirta Amerta untuk membebaskan ibunya Dewi Winata dari cengkraman sihir jahat Dewi Kadru yang berbentuk ular berkepala tiga. Air amerta atau air suci pemberian Dewa Wisnu tidak dengan mudah didapatkan oleh Garudeya. Namun karena baktinya yang tinggi pada ibu garudeya terus berjuang mendapatkan air amerta dan berhasil membebaskan ibunya. Gambaran semangat Garudeya menyelamatkan ibunya menjadi inspirasi agar puyra-putra bangsa Indonesia memiliki sikap ksatria menjaga ibu pertiwi dengan semangat perjuangan, kebaikan yang tulus dan kesetiaan. Hal inilah yang menempatkan Garudeya sebagai lambang negara yang kini dikenal dengan nama GARUDA. Bentuk Garudeya yang juga diinspirasi dari bentuk burung elang Jawa yang dianggap sebagai lambang pembawa berita dari Kahyangan (kendaraan para dewa). Sayangnya, sangat sedikit literasi yang bisa didapat tentang inspirasi cerita sang garudeya menjadi Lambang Negara. Tak hanya mengetahui bagaimana bentuk asli burung Garudeya, tetapi nilai dari cerita tentang Garudeya seharusnya dimengerti dan dipahami oleh seluruh rakyat Indonesia. Media audio visual film Animasi menjadi faktor penentu dan sangat penting agar cerita-cerita kebajikan dan sarat nilai luhur ini yang menjadi inspirasi Bung Karno menjadikannya lambang Negara bisa dengan mudah diperoleh oleh seluruh rakyat terutama kaum muda dan anak-anak. Semangat ksatria, cinta yang tulus pada tanah air, kesetiaan pada kebaikan serta melawan kejahatan dengan gagah berani adalah watak yang turut membangun karakter bangsa ini.