Surabaya
Di Surabaya, sebagai kota terbesar kedua di Indonesia, kami mendampingi lebih dari 150 keluarga yang tinggal di kawasan kumuh di sepanjang jalur kereta api di bagian selatan Surabaya, tepatnya di Kelurahan Ketintang. Dalam kehidupan sehari-hari, kami melihat situasi yang membahayakan, di mana anak-anak bermain di sekitar jalur kereta api dan berada sangat dekat dengan kereta yang melintas.
Para orang tua bekerja di sektor informal sebagai pemulung, penjual makanan kaki lima atau pemilik warung, buruh angkut, serta pengemudi transportasi daring. Beberapa pemuda yang sejak 2017 telah mengikuti kegiatan ALIT saat ini merupakan siswa sekolah menengah, sementara sebagian lainnya telah lulus dari sekolah kejuruan. Mereka aktif di ALIT Shop bersama mahasiswa untuk mengelola toko yang menjual berbagai produk desa.
Permasalahan yang dihadapi masyarakat antara lain pengabaian terhadap kebutuhan anak, persoalan kesehatan, serta keterbatasan akses terhadap dukungan sosial dari Pemerintah Kota Surabaya karena status tempat tinggal komunitas tersebut yang tidak memiliki legalitas formal. Di sekitar komunitas ini terdapat kampung-kampung perkotaan dengan status administrasi yang lebih formal, yang hidup berdampingan dengan kawasan tersebut.
Permasalahan serupa juga ditemukan di antara warga kampung di sekitar wilayah tersebut, khususnya terkait kondisi anak-anak. Anak-anak terbiasa mengonsumsi makanan cepat saji atau makanan dengan kandungan gizi rendah dalam kehidupan sehari-hari. Para ibu masih memiliki keterbatasan pengetahuan mengenai gizi dan keterampilan dalam mengolah makanan yang sehat dan bergizi. Sementara itu, para ayah bekerja dengan jam kerja yang tidak menentu dan harus selalu siap menerima pekerjaan kapan saja.
Wilayah Pedesaan: Jember, Pasuruan, Sumenep, Banyuwangi, dan Flores
Situasi yang berbeda ditemukan di beberapa desa yang menjadi wilayah kerja kami, seperti Desa Klungkung dan Karangpring di Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember; Desa Palangsari dan Ngadiwono di lereng Bromo, Kabupaten Pasuruan; Pulau Gili Genting di Kabupaten Sumenep; serta Desa Sempu dan Jambewangi di Banyuwangi, Jawa Timur, dan beberapa wilayah di Flores, Nusa Tenggara Timur.
Sebagian besar wilayah tersebut merupakan kawasan pedesaan dengan sumber pendapatan utama masyarakat berasal dari sektor pertanian, seperti padi, jagung, tembakau, rempah-rempah, sayuran, kopi, kakao, kelapa, buah-buahan tropis, dan bunga. Selain itu, masyarakat juga mengandalkan perikanan dan peternakan, termasuk ayam, telur, daging, dan susu. Produk-produk tersebut secara rutin diproduksi dan dijual ke pasar lokal dengan harga yang relatif rendah.
Sebagian orang tua memiliki tingkat pendidikan yang terbatas dan menikah pada usia yang sangat muda. Perempuan rata-rata telah memiliki anak sebelum usia 17 tahun karena secara budaya usia tersebut dipandang sudah cukup matang untuk memiliki anak.
Pertanian sebagai mata pencaharian utama masyarakat juga sangat bergantung pada penggunaan pupuk kimia dan pestisida. Sejak usia dini, anak-anak turut dilibatkan dalam pekerjaan domestik, termasuk merawat ternak pada pagi hari, sebagai bagian dari aktivitas ekonomi keluarga.
Gianyar, Bali
Di Desa Tampaksiring dan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, salah satu kawasan tujuan pariwisata utama di Indonesia, terlihat adanya perubahan pola kehidupan dan sumber pendapatan keluarga.
Desa pada dasarnya memiliki peran penting sebagai penghasil dan pemasok pangan bagi wilayah perkotaan. Namun, seiring berkembangnya pariwisata, berbagai sektor ekonomi semakin diarahkan untuk memenuhi kebutuhan industri pariwisata.
Produk kerajinan dan suvenir yang sebelumnya dibuat oleh masyarakat lokal kini banyak dipasok dari negara seperti China dan India dengan harga yang sangat murah. Beberapa tahun sebelumnya, para orang tua di wilayah ini masih bekerja membuat kerajinan setelah menyelesaikan pekerjaan mereka di lahan pertanian.
Sementara itu, kebutuhan pangan untuk pariwisata banyak dipenuhi dari luar Bali, termasuk dari Jawa, sementara lahan pertanian semakin beralih fungsi menjadi akomodasi wisata. Perubahan tersebut berdampak pada kehidupan keluarga, terutama keluarga dari kelompok sosial-ekonomi yang lebih rendah, yang semakin menghadapi tekanan ekonomi dan berisiko mengalami kemiskinan.