Suara dentuman lumpang dari sebuah dapur di pedesaan flores yang beratapkan seng terdengar ritmis. Asap tipis membumbung tinggi, membawa aroma manis dan gurih dari biji-bijian yang baru saja disangrai setengah matang. Hari sudah pagi, ibu-ibu memulai harinya untuk menyiapkan bahan makan. Dengan jemari yang cekatan, seorang ibu menumbuk bulir panas itu hingga pipih—menciptakan apa yang warga lokal sebut sebagai Jagung Titi.
Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur, khususnya Flores dan Kepulauan Solor, bulir emas ini bukan sekadar menu sarapan pendamping kopi panas. Ia adalah urat nadi kehidupan, penambal perut di kala kemarau panjang menerjang tanah karang yang tandus. Mereka menyebutnya sebagai Jawa, sebuah keunikan etnolinguistik yang menggelitik: jagung kerap disapa dengan sebutan Jawa atau Gawa.
Mengapa masyarakat tanah Nusa Bunga, yang terpisah ratusan mil laut dari Pulau Jawa, memanggil tanaman pokok mereka dengan nama pulau tersebut? Jawabannya ternyata menyembunyikan rajutan sejarah perdagangan global, jejak kolonialisme, dan daya adaptasi kebudayaan masyarakt flores.
Secara sekilas, orang mungkin menyangka bahwa nama “Jawa” merujuk langsung pada pulau tempat Candi Borobudur berdiri. Namun, penyelidikan etnolinguistik membingkai kisah yang jauh lebih tua.
Dalam karya monumental sejarawan Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya (1996), dijelaskan bahwa kata jagung sejatinya merupakan hasil pemendekan kata atau kontraksi linguistik dari frase “jawa agung”. Dahulu kala, sebelum jagung dikenal di Nusantara, bahan pangan serealia utama masyarakat adalah jewawut (Setaria italica). Ketika sejenis tanaman baru biji-bijian yang ukuran bulirnya jauh lebih besar tiba di pekarangan warga, masyarakat secara alami menamainya “jewawut besar”—yang di lidah masyarakat kemudian meluruh menjadi jawa agung, lalu ringkas menjadi jagung.
Di saat yang sama, kata Jawa atau Gawa dalam konstruksi bahasa lokal Flores mengalami apa yang disebut pergeseran makna (semantic shift). Kata ini berkembang menjadi sebutan generik untuk menyebut benda, tanaman, atau komoditas unggul yang dibawa oleh para pelaut dan pedagang dari seberang laut. Jadi, ketika orang Flores menyebut “Jawa”, mereka sebenarnya sedang membaca jejak memori tentang pangan asing unggulan yang datang menyeberangi lautan.
Untuk memahami bagaimana benih ini bisa sampai ke tanah Flores, kita harus memutar jarum jam kembali ke abad 16. Jagung (Zea mays) bukanlah tanaman asli Asia, melainkan komoditas asli Benua Amerika. Tanaman ini menjelajah dunia melalui fenomena yang dicatat oleh ilmuwan Alfred W. Crosby dalam bukunya The Columbian Exchange: Biological and Cultural Consequences of 1492 (2003). Crosby mencatat bagaimana gelombang penjelajahan samudra oleh bangsa Eropa memindahkan flora dan fauna secara masif antarbenua.
Kapal-kapal dagang Portugis membawa benih jagung dari benua Amerika melintasi samudra, hingga akhirnya singgah di dermaga-dermaga perdagangan mereka di Indonesia Timur, terutama Larantuka dan Kepulauan Solor. Sebagaimana dipaparkan oleh R. H. Barnes dalam Sea Hunters of Indonesia (1996), wilayah Solor dan Flores Timur di masa lalu merupakan titik temu penting dalam jaringan pelayaran dan misi Portugis.
Di tanah Flores yang cenderung kering dan memiliki curah hujan terbatas, jagung menemukan rumah barunya. Sebagaimana diulas oleh Peter Boomgaard dalam studinya mengenai sejarah tanaman non-beras di Indonesia, “In the Shadow of Rice: Roots and Tubers in Indonesian Agriculture” (2003), jagung cepat populer karena sifatnya yang relatif tahan kekeringan dan masa panennya yang jauh lebih singkat jika dibandingkan dengan padi. Tanaman asing asal New World ini dengan cepat menggeser dominasi jewawut dan mengisi piring-piring masyarakat setempat.
Meski berstatus sebagai “pendatang” yang dibawa kapal Portugis, jagung kini telah sepenuhnya dianak-kandungkan oleh kebudayaan Flores. James J. Fox dalam buku klasiknya, Harvest of the Palm: Ecological Change in Eastern Indonesia (1977), mengamati betapa eratnya adaptasi ekologis dan kultural masyarakat Nusa Tenggara terhadap tanaman pangan pengganti padi. Jagung bukan sekadar pengisi perut, melainkan bagian terpadu dari sistem ritual pertanian, penanda musim, dan simbol daya tahan (resilience) masyarakat menghadapi alam yang keras.
Proses pembuatan Jagung Titi di Flores Timur, misalnya, adalah manifestasi kearifan lokal dalam mengawetkan hasil bumi. Jagung disangrai lalu dititi (ditumbuk hingga pipih) agar tahan disimpan berbulan-bulan tanpa bahan pengawet kimia. Dari urusan dapur hingga ritual adat penyerahan hasil panen, “Si Jawa” ini telah menancapkan akarnya begitu dalam.
Pada akhirnya, sebutan “Jawa” untuk jagung di Flores menyimpan ironi sekaligus keunikan. Ia adalah saksi bisu dari dialog antar-peradaban. Sebutir jagung yang kita nikmati hari ini di pinggir pantai Larantuka mengandung jejak genetik dari Pegunungan Andes Amerika, dibawa oleh kapal Portugis, diberi nama dengan serapan bahasa jewawut Nusantara, dan diolah dengan keterampilan tangan asli perempuan Flores.
Memahami mengapa “Jagung adalah Jawa” menyadarkan kita bahwa bahasa dan pangan adalah arkib sejarah yang paling jujur. Di dalam setiap renyah Jagung Titi dan manis bulir jagung bakar di tanah Flores, ada kisah perjalanan panjang peradaban manusia yang melintasi samudra dan waktu.