ALIT INDONESIA, PASURUAN — Suara mantra yang dilantunkan Dukun Tengger bergema nyaring di balik kabut dingin lereng Gunung Bromo. Suara itu berasal dari Romo Eko Warnoto, seorang Dukun Pandita Brang Kulon. Ia berbalut busana adat serba putih dan udeng di kepala, bersama ratusan warga yang larut dalam keheningan ritual Yadnya Karo di Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Upacara sakral masyarakat suku Tengger ini merupakan wujud ungkapan rasa terima kasih tulus kepada leluhur dan Ibu Pertiwi. Di tengah krisis iklim global dan gempuran pariwisata massal, perayaan Karo menjadi panggung penegasan pentingnya pelestarian lingkungan serta perlindungan hak-hak anak adat.
Bagi warga Tengger, hubungan manusia dengan alam adalah fondasi keagamaan dan kebudayaan. Salah satu rangkaian penting dalam Hari Raya Karo adalah ritual Resik Danyang Banyu, yakni pembersihan dan penghormatan terhadap sumber-sumber mata air demi menyelaraskan alam semesta dengan seluruh isinya, termasuk diri manusia.
”Dengan adanya pembangunan di sektor pariwisata dan kemajuan zaman, jelas ada penurunan (kelestarian alam) karena sekarang ini hutan sudah berkurang. Pemeliharaan sumber mata air juga agak berkurang, tetapi orang Tengger tetap konsisten untuk menjaga alamnya. Orang Tengger mempunyai prinsip: kalau mau menebang pohon, harus menanam dulu. Dengan cara itu, orang Tengger menjaga alam supaya tetep ajeg dan juga saling menjaga isinya; dan isinya juga sebaliknya, harus menjaga alam,” ujar Romo Eko.
Pesan konservasi ini dinilai sangat relevan. Tekanan ekologis akibat perubahan iklim dan alih fungsi lahan di kawasan penyangga Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) kian menuntut aksi nyata dari masyarakat lokal untuk menjaga ketersediaan air dan daya dukung tanah pegunungan.
“Di setiap saat, kami juga menjaga dan melestarikan. Bukan hanya ritualnya saja, tetapi melestarikan untuk menanam pohon supaya resapan air itu lebih banyak. Kalau pohon berkurang, resapan air itu juga berkurang. Maka dari itu, mari kita jaga alam ini bersama-sama,” imbuhnya.
Poin krusial lain yang mengemuka dalam perayaan Karo ini adalah keterkaitan erat antara kelestarian lingkungan dan pemenuhan hak-hak anak. Kesejahteraan generasi muda Tengger sangat bergantung pada lingkungan hidup yang aman, sehat, dan stabil.
Dalam ruang-ruang ritual Karo, anak-anak adat dilibatkan secara aktif untuk melestarikan tradisi. Tidak hanya Tari Sodoran yang sakral ataupun pelantunan doa, mereka juga diajarkan mengenai nilai-nilai penghormatan terhadap alam sejak dini. Ini merupakan wujud pemenuhan hak anak atas identitas budaya dan pendidikan berbasis kearifan lokal.
Yadnya Karo 1948 Saka memperlihatkan bagaimana nilai-nilai tradisional mampu menjawab tantangan zaman. Sinergi antara para tokoh adat, pemerintah desa dan daerah, serta lembaga perlindungan anak terus diperkuat demi memastikan warisan budaya tidak berhenti pada formalitas perayaan semata.
Sikap inklusif dan nilai toleransi yang dijunjung tinggi masyarakat Tengger juga menjadi modal sosial yang kuat. Kerukunan dan gotong royong warga tanpa memandang latar belakang agama dalam Yadnya Karo menjadi cermin keharmonisan sosial di kawasan Bromo.
Menjaga Bromo adalah tugas merawat rumah yang aman dan berkelanjutan bagi anak-anak adat yang hidup di dalamnya, bukan semata-mata menjaga lanskap alam yang indah untuk wisatawan. Selama mata air terus mengalir dan tradisi dirawat, masa depan anak-anak Tengger akan tetap terjaga di bawah naungan Gunung Bromo.