Di tengah derasnya arus modernisasi dan padatnya dinamika kehidupan remaja masa kini, pelestarian tradisi lokal kerap menghadapi tantangan tersendiri. Namun, di Tampaksiring, Bali, inisiatif untuk mendekatkan kembali generasi muda pada akar budayanya terus diupayakan. Melalui program Geliat Remaja Banjar, Duta ALIT Tampaksiring memelopori kegiatan pelatihan pembuatan banten menggunakan bunga segar—sebuah praktik sarat makna yang kini kerap tergerus oleh serbapraktisnya kehidupan modern.
Praktik pembuatan banten di era sekarang memang telah mengalami pergeseran. Tingginya kesibukan masyarakat kerap mendorong penggunaan bahan-bahan siap pakai yang lebih praktis. Melalui pelatihan ini, penggunaan bunga segar diangkat menjadi fokus utama karena kedekatannya dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Bali serta keterlibatannya yang erat dalam setiap ritual keagamaan. Duta ALIT diajak untuk mengenal kembali beragam jenis bunga tradisional, memilah, menyiapkan, hingga menatanya secara rapi sesuai kaidah pembuatan banten. Bagi sebagian remaja yang sudah terbiasa berkreasi di rumah, proses ini berjalan lancar namun tidak bagi mereka yang belum terbiasa. Sehingga, kegiatan ini menjadi ruang belajar yang berharga untuk mengasah keterampilan mereka.
Lebih dari sekadar merangkai bunga, proses ini menanamkan nilai-nilai filosofis dan kearifan lokal yang mendalam bagi para remaja. Pembuatan banten mengajarkan bahwa tradisi tidak hanya sebuah kewajiban ritual, tetapi wujud rasa syukur dan penghormatan terhadap alam. Melalui media sederhana seperti bunga segar, para remaja belajar untuk tidak mengambil hasil alam secara berlebihan, menjaga kebersihan lingkungan, serta bekerja dengan penuh ketelitian. Setiap tahapan pembuatan banten memuat pembelajaran tentang bagaimana manusia seharusnya berharmonisasi dengan lingkungan sekitarnya.
Menjangkau dan menggerakkan remaja di era sekarang tentu tidak lepas dari tantangan. Seiring bertambahnya usia, para Duta ALIT kini memiliki beragam kesibukan eksternal, seperti dunia akademis dan aktivitas lainnya. Kondisi ini membuat tingkat partisipasi tidak secair dulu. Selain itu, ada anggapan di sebagian kalangan muda bahwa tradisi merupakan hal yang kuno atau sekadar tanggung jawab para orang tua dan tetua adat.
Untuk menyikapi hal tersebut, pendekatan yang digunakan tidak lagi bersifat memaksa. Duta ALIT merangkul teman sebayanya dengan menciptakan ruang kegiatan yang relevan, inklusif, serta memberi kebebasan bagi remaja untuk berpendapat dan berkreasi. Hasilnya, saat sesi latihan berlangsung, canggung yang semula ada perlahan membaur menjadi suasana yang cair dan hangat.
Inisiatif positif ini mendapat sambutan yang sangat baik dari para tokoh adat, tetua banjar, maupun orang tua di Tampaksiring. Mereka menilai kegiatan ini sebagai wadah efektif untuk memperkenalkan kembali akar budaya kepada generasi penerus. Secara sosial, Geliat Remaja Banjar berhasil menyediakan ruang aman bagi anak muda untuk berkumpul, beraktivitas positif, dan membangun komunikasi yang lebih terbuka antarsesama.
Ke depan, program Geliat Remaja Banjar diharapkan tidak hanya berhenti pada satu atau dua lokakarya semata. Harapan besarnya adalah para Duta ALIT dapat makin mandiri dalam menggerakkan kawan sebayanya, melestarikan tradisi, menjaga lingkungan, serta terus menghidupkan kegiatan-kegiatan positif berbasis komunitas di banjar mereka masing-masing.