Jika mendengar kata “Tengger”, hal pertama yang terlintas di pikiran sebagian besar dari kita adalah keindahan Gunung Bromo. Padahal, di balik lanskap lautan pasir dan panorama matahari terbitnya yang ikonik, terdapat Suku Tengger—masyarakat adat yang mendiami kawasan Pasuruan, Malang, Lumajang, dan Probolinggo. Mereka memiliki kekayaan budaya, filosofi hidup yang hangat, serta sistem nilai yang berhasil dipertahankan secara turun-temurun sejak era Kerajaan Majapahit.
Secara etimologi, nama “Tengger” berkaitan dengan tokoh sejarah lokal, Roro Anteng dan Joko Seger, yang dipercaya sebagai cikal bakal masyarakat setempat. Kata ini juga mengandung filosofi Tengering Budi Luhur yang bermakna berbudi pekerti agung serta teguh menjaga tradisi. Sementara dalam bahasa Jawa Kuno, kata “Tengger” berarti tegak, diam, atau kokoh. Makna ini menjadi lambang keteguhan iman, konsistensi moral, dan stabilitas batin masyarakatnya dalam mempertahankan tradisi luhur dari pengaruh negatif modernisasi.
Landasan hidup masyarakat Tengger berakar pada tiga prinsip keseimbangan hidup. Pertama, Prahyangan, yaitu hubungan harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta melalui doa dan ritual keagamaan. Kedua, Pawongan, yaitu hubungan harmonis antarsesama manusia yang tecermin dalam budaya gotong royong, rasa saling percaya, dan kerukunan antarwarga. Ketiga, Palemahan, yaitu hubungan harmonis dengan alam sekitar. Masyarakat Tengger memandang alam sebagai sumber kehidupan yang wajib dijaga kelestariannya, salah satunya melalui prinsip adat untuk menanam pohon terlebih dahulu sebelum menebang.
Tata kehidupan sosial dan spiritual tersebut dijaga di bawah kepemimpinan seorang Dukun Pandita. Dukun Pandita bertugas memimpin upacara ritual, menjadi penasihat adat, sekaligus memelihara keharmonisan seluruh warga.
Keharmonisan tersebut juga diwujudkan melalui beragam ritual adat yang diselenggarakan secara berkala. Salah satu yang paling dikenal adalah Yadnya Kasada, yaitu upacara tahunan di Kawah Gunung Bromo ketika masyarakat membawa hasil bumi, ternak, dan sajen sebagai bentuk rasa syukur dan penghormatan kepada leluhur. Selain Kasada, terdapat pula Raya Karo, hari raya adat yang diisi dengan silaturahmi, pembacaan mantra keselamatan, serta pementasan Tari Sodoran sebagai visualisasi asal-usul penciptaan manusia.