Olah Napas dan Permainan Warna: Ruang Aman Bagi Anak Pascagempa di Flores
Bencana gempa bumi yang melanda wilayah Flores, khususnya di Desa Nitakloang, meninggalkan jejak traumatis yang cukup mendalam bagi masyarakat lokal, terutama anak-anak. Meski situasi psikologis anak-anak kini berangsur lebih tenang, rasa cemas dan ketakutan terhadap potensi gempa susulan masih terus membayangi keseharian mereka. Dalam kondisi pemulihan bencana seperti ini, pemulihan kesehatan mental dan penanganan trauma (trauma healing) menjadi prioritas yang sama pentingnya dengan penanganan fisik.
Guna membantu memulihkan kondisi psikologis tersebut, Yayasan ALIT Indonesia hadir mendampingi anak-anak terdampak melalui pendekatan psikososial yang adaptif dan menyenangkan. Metode olah napas sederhana yang dipadukan dengan permainan bola warna-warni dipilih secara khusus sebagai media intervensi. Teknik olah napas berfungsi membantu anak mengendalikan rasa cemas dan menenangkan sistem saraf mereka. Sementara itu, permainan bola warna-warni efektif dalam mengalihkan fokus anak dari ketakutan serta menciptakan ruang aman yang penuh kegembiraan.
Selama proses kegiatan berlangsung, terlihat perubahan emosi yang signifikan pada diri anak-anak. Respons positif terpancar dari keceriaan dan ketenangan yang kembali hadir di tengah-tengah mereka. Kegembiraan yang tercipta melalui aktivitas permainan tersebut terbukti menjadi sarana efektif dalam mengikis kecemasan dan mengembalikan keceriaan alami masa kanak-kanak yang sempat terenggut oleh bencana.
Dalam pelaksanaannya, tantangan utama yang dihadapi di lapangan adalah dinamika kehadiran anak-anak akibat kendala jarak permukiman serta rasa khawatir orang tua terhadap kemungkinan timbulnya gempa susulan. Menanggapi kondisi tersebut, ALIT Indonesia menerapkan strategi penjangkauan berbasis lembaga pendidikan formal. Pendampingan difokuskan pada pusat-pusat aktivitas belajar di sekolah, seperti kelompok PAUD yang menampung hingga 17 anak serta tingkat TK yang mencakup sekitar 35 anak. Melalui pendekatan terkonsentrasi di lingkungan sekolah ini, sesi intervensi psikososial dapat menjangkau target peserta secara lebih optimal dan terstruktur.
Rencana keberlanjutan pendampingan psikososial di Desa Nitakloang dan wilayah terdampak lainnya akan terus dijalankan secara berkala. Tim pendamping tetap bersiaga dan responsif terhadap dinamika lapangan, dengan selalu memperhatikan serta mewaspadai perkembangan kondisi gempa susulan yang masih kerap terjadi. Upaya pendampingan yang konsisten ini diharapkan dapat membentuk ketahanan mental anak-anak Flores sehingga mereka mampu pulih sepenuhnya dari dampak traumatis bencana.