Pendekatan Humanis ALIT Bali Dalam Edukasi Self-Protection Anak Usia Dini
Perlindungan anak merupakan fondasi utama dalam memastikan tumbuh kembang yang optimal dan aman. Menyadari pentingnya hal tersebut, Yayasan ALIT Indonesia mengintegrasikan kelas PERLINA (Self-Protection) untuk anak usia dini ke dalam program Early Child Development (ECD). Berbeda dengan kelompok anak di kelas Merdeka Belajar (usia 8–12 tahun) yang sudah mampu diajak berdiskusi mendalam, pelaksanaan program PERLINA dikemas sesuai dunia anak, yakni melalui kegiatan bermain, mendongeng, dan beraktivitas kreatif. Oleh sebab itu, metode storytelling dan permainan peran (role-play) menjadi instrumen utamanya.
Tujuan utama kelas PERLINA bagi anak usia dini adalah menumbuhkan kesadaran dasar bahwa tubuh mereka adalah milik mereka sendiri. Melalui interaksi yang hangat, anak-anak dilatih untuk mengenali batasan tubuh, membedakan antara sentuhan yang boleh dan tidak boleh, serta membangun keberanian untuk menolak perlakuan yang membuat mereka tidak aman.
Di wilayah ALIT Bali, para fasilitator memilih narasi yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, menggunakan tokoh anak-anak, serta mengangkat alur yang sederhana saat pemutaran film pendek maupun pembacaan buku cerita. Sementara itu, sesi role-play dirancang secara alami layaknya permainan biasa sehingga tidak terpaku pada teori semata. Anak-anak diajak menyimulasikan situasi ketika ada tindakan yang membuat tidak nyaman, lalu mempraktikkan respons langsung seperti berani berkata “tidak mau”, menjauh dari lokasi, dan segera mencari orang dewasa yang dapat dipercaya.
“Kami sendiri menghindari penyampaian yang menakutkan dan lebih banyak menggunakan cerita, permainan, gambar, film pendek, dan role-play. Pesannya dibuat sederhana, misalnya kalau ada yang membuatku tidak nyaman, aku boleh bilang tidak dan cerita kepada orang dewasa yang aku percaya. Jadi, anak belajar melindungi diri tanpa merasa bahwa lingkungan di sekitarnya berbahaya semua,” jelas Eldo Da Cunha, Koordinator Wilayah ALIT Bali.
Penanaman nilai ini dilakukan secara cermat guna memberikan pemahaman bahwa anak-anak memiliki hak dan kemampuan untuk melindungi diri mereka sendiri. “Biasanya, kami gunakan media boneka dari kaos kaki ketika storytelling agar penyampaiannya menarik dan mudah diterima oleh anak-anak usia dini,” tambah Eldo.
Pendekatan ini juga diselaraskan dengan konteks lokal di Bali. Penyampaian materi menggunakan bahasa sehari-hari yang luwes dan mudah dipahami anak serta keluarga, tanpa mengesampingkan penggunaan bahasa Indonesia. Nilai-nilai kearifan lokal seperti saling menghargai dan menghormati sesama turut diintegrasikan sehingga materi perlindungan diri terasa dekat dan relevan dengan lingkungan tumbuh kembang mereka.
Penerapan metode interaktif ini mendapatkan respons positif dari anak-anak dampingan. Aktivitas yang dinamis membuat mereka lebih aktif mengekspresikan diri dan mampu menirukan langkah-langkah perlindungan diri yang dicontohkan oleh fasilitator. Kendati demikian, fasilitator di lapangan tetap menghadapi tantangan, terutama dalam menjangkau anak-anak yang masih malu atau memiliki kecepatan pemahaman yang berbeda. Oleh karena itu, fasilitator dituntut cermat dalam memilih artikulasi bahasa agar pesan tersampaikan secara pas; tidak terlalu berat yang berpotensi memicu rasa takut, tetapi juga tidak terlalu ringan hingga kehilangan maknanya.
Keberhasilan edukasi perlindungan anak tidak berhenti di dalam ruang kelas. Melalui kegiatan kunjungan rumah (home visit), ALIT Bali merangkul orang tua agar terus membangun komunikasi yang terbuka di lingkungan keluarga. Orang tua didorong untuk menjadi pendengar yang baik, menghargai perasaan anak, dan menyediakan ruang aman bagi anak untuk bercerita tanpa rasa cemas.
Perubahan yang dihasilkan dari kelas PERLINA memang berlangsung secara bertahap. Namun, dampaknya mulai terlihat dari tumbuhnya rasa percaya diri anak-anak bahwa mereka memiliki hak atas keamanan dirinya. Ke depan, ALIT Bali berkomitmen menjadikan nilai-nilai PERLINA sebagai bagian dari rutinitas harian pendampingan anak, baik melalui kegiatan ECD, diskusi santai, maupun interaksi bersama orang tua. Dengan demikian, kesadaran melindungi diri dapat melekat menjadi karakter yang berkelanjutan.