
Masalah kesehatan kronis pada anak menjadi perhatian khusus akhir-akhir ini. Data menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Indonesia, prevalensi obesitas anak usia 5–12 tahun meningkat dari 8,0% pada 2018 menjadi sekitar 10,2% pada 2023 (Colozza et al., 2023). Kasus diabetes anak juga melonjak tajam, dengan lebih dari 1.600 anak terdiagnosis pada 2023 (World Journal of Advanced Research and Reviews, 2024). Secara global, WHO mencatat lebih dari 43 juta anak di bawah 5 tahun mengalami overweight atau obesitas (Obesity Evidence Hub, 2024), sementara CDC melaporkan 1 dari 36 anak di Amerika Serikat terdiagnosis autisme. Selain itu, setiap tahun lebih dari 400.000 kasus baru kanker anak tercatat di dunia (Alex’s Lemonade Stand Foundation, 2024), dan asma kini menjadi salah satu penyebab utama anak-anak sering absen sekolah.
Angka-angka tersebut menandakan kebutuhan mendesak untuk intervensi gizi, aktivitas fisik, regulasi lingkungan, dan sistem deteksi dini. Sebagai orang tua, cara paling mudah agar anak terhindar dari masalah kesehatan kronis adalah dengan memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi. Konsumsi makanan ultra-proses (ultra-processed food) berlebih seharusnya menjadi perhatian serius, karena kandungan zat pengawet, pewarna, dan perasa dapat memperburuk kesehatan anak dalam jangka panjang (Boseley, 2024).
Memasak sendiri makanan untuk anak sebaiknya menjadi prioritas. Dengan proses masak yang higienis serta pemilihan bahan segar, orang tua bisa meminimalisir penggunaan zat tambahan yang berisiko. Jika tidak sempat memasak, setidaknya bahan dan proses masak perlu dipastikan agar lebih aman. Dengan langkah sederhana ini, kita ikut menjaga anak tumbuh sehat, kuat, dan terhindar dari risiko penyakit kronis di masa depan.
Alit mendorong orang tua dampingan agar dapat memasak makanan untuk anak-anak nya, setiap bulan diadakan kegiatan ‘olah-olah’ yaitu memasak bersama orang tua dan anak. Dalam kegiatan olah-olah, mentor akan memberikan tema masakan di hari tersebut serta memberi petunjuk langkah-langkah memasaknya. Tema masakan bervariatif dan berbeda dari masakan harian yang biasa dikonsumsi anak-anak ataupun dimasak oleh orang tua agar tidak bosan dengan menu yang itu itu saja, namun tentunya tetap sehat, lezat, dan menarik. Anak juga ikut serta dalam kegiatan ini untuk membantu orang tua mereka dalam menyiapkan makanan dan memahami proses memasak yang sehat tidak bisa dilakukan dengan instan sehingga anak akan lebih menghargai hasil masakan orang tuanya.
Jenis masakan tidak hanya pada makanan berat, seringkali diselingi dengan jajanan ringan dan juga minuman pelepas dahaga. Bahan makanan juga dikondisikan menyesuaikan ketersediaan bahan di masing-masing daerah. Di bulan Agustus ini wilayah Flores dengan jumlah ikan laut dengan salah satu menu nya hidangan pesmol ikan, Bali dengan hasil sayur nya memasak sop ayam, Surabaya melakukan modifikasi hasil olahan yaitu bakso sayur tanpa tepung, Banyuwangi juga menyajikan sayur sop dari hasil kebun masing-masing dilengkapi telor puyuh dan bakso yang telah dibuat oleh salah satu orang tua, Sumenep memanfaatkan hasil panen kebun mereka yaitu singkong dan pisang yang diolah menjadi kue menggunakan pewarna alami kunyit dan bunga telang, Sementara Jember kali ini mengadakan lomba bekal sehat anak agar anak lebih menyukai bekal mereka yang lebih cantik namun tetap sehat dan lezat.
Kegiatan yang terlihat sederhana namun memiliki dampak besar bagi perbaikan kondisi anak apabila dilakukan secara konsisten oleh seluruh orang tua di Indonesia. Anak sebagai generasi penerus bangsa seharusnya mendapat atensi khusus oleh pemerintah, bukan tidak mungkin “Indonesia Emas 2045” hanya sekedar angan-angan dengan kondisi masalah Kesehatan kronis anak yang semakin meningkat. pengawasan ketat terhadap izin edar makanan instan, penertiban makanan kaki lima yang tidak higienis, sosialisasi gizi seimbang yang menyeluruh, hingga program stimulus untuk membiasakan masakan rumah sehat. Kolaborasi antara orang tua, masyarakat, dan pemerintah inilah yang akan menentukan masa depan anak-anak Indonesia agar tumbuh sehat, cerdas, dan siap menyongsong 2045 dengan penuh harapan.
Daftar Pustaka:
Alex’s Lemonade Stand Foundation. (2024). Childhood cancer facts. Childhood Cancer Facts: By the Numbers | Alex’s Lemonade Stand Foundation for Childhood Cancer
Boseley, S. (2024, February 29). More than a billion people worldwide are obese, research finds. The Guardian. https://www.theguardian.com/society/2024/feb/29/more-than-a-billion-people-worldwide-are-obese-research-finds
Colozza, D. C., Sugihantono, A., Purwantyastuti, P., Maharani, D. D., Fithra, F., & Hasnida, H. (2023). Landscape analysis of overweight and obesity in Indonesia: Summary for policymakers. ResearchGate. https://www.researchgate.net/publication/374949490_Landscape_analysis_of_overweight_and_obesity_in_Indonesia_Summary_for_Policymakers
Obesity Evidence Hub. (2024). Children – Global context. https://www.obesityevidencehub.org.au/collections/trends/children-global-context
World Journal of Advanced Research and Reviews. (2024). The incidence of type 1 diabetes mellitus in children and adolescents in Indonesia. World Journal of Advanced Research and Reviews, 21(2), 150–158. https://wjarr.com/sites/default/files/WJARR-2024-0820.pdf