Pernah nggak, sih, terlintas di pikiranmu kalau tinggal di area perkotaan yang padat itu berarti kita nggak bisa punya kebun sendiri? No, no, pikiran kayak gitu udah harus dibuang jauh-jauh, ya!
Sekarang lagi ngetren banget yang namanya urban farming alias pertanian perkotaan. Kebun terpadu di kota bukan sekadar tren estetika biar rumah kelihatan hijau di media sosial, tapi juga jadi gerakan untuk ketahanan pangan mandiri.
Nah, kalau kamu bingung mau mulai dari mana, kita bisa banget mencontoh sebuah konsep super seru yang diinisiasi oleh Yayasan ALIT, yaitu program BERISIK (Berkebun Itu Asik). Konsep ini membuktikan kalau berkebun itu nggak membosankan, nggak ribet, dan justru bisa jadi aktivitas komunal yang sangat menyenangkan serta penuh edukasi!
Seperti apa, sih, konsep BERISIK ala Yayasan ALIT?
Konsep BERISIK ini pada dasarnya adalah sebuah gerakan integratif yang memadukan aktivitas pertanian skala rumahan dan sekolah dengan keterlibatan aktif masyarakat. Lewat program ini, Yayasan ALIT sukses mengimplementasikan kebun terpadu yang menyentuh tiga pilar lokasi utama: di sekolah, di komunitas (kampung), dan di rumah masing-masing.
Jadi, bukan hanya menanam pohon lalu ditinggal, ya! Konsep BERISIK ini menerapkan sistem berkebun yang menyenangkan dengan melibatkan seluruh ekosistem: anak-anak, orang tua, guru, hingga pemerintah lokal. Hasilnya? Luar biasa! Nggak cuma dapat hijaunya, tapi juga dapat sehat dan ilmunya.
Fun fact keren: Hingga saat ini, tercatat 267 rumah telah menerima bibit sayuran serta rempah-rempah, dan mereka aktif melakukan aktivitas pertanian secara mandiri di lahan mereka sendiri!
Untuk mewujudkan kebun terpadu di kota yang berkelanjutan, kita bisa meniru formula pembagian zona dari Yayasan ALIT berikut ini:
- BERISIK di Sekolah (School Gardening)
Murid-murid, orang tua, dan guru berkolaborasi menanam benih sayuran di lingkungan sekolah. Anak-anak punya jadwal harian untuk menyiram tanaman, sementara para orang tua ikut membantu mematangkan persiapan tanah. Ini adalah cara terbaik mengenalkan alam dan melatih tanggung jawab serta koordinasi motorik anak sejak dini.
- BERISIK di Komunitas (Community Gardening)
Pusat perkebunan komunitas dibangun di lahan kolektif seperti area kantor ALIT, tanah kas desa, atau lahan kosong milik warga. Di sini, skalanya lebih luas dan komplit karena mengombinasikan budidaya sayuran multi-tanaman, tanaman herbal, rempah-rempah, bahkan dipadukan dengan aquaculture (budidaya air/perikanan) dan peternakan ayam!
- BERISIK di Rumah (Home Gardening)
Setiap keluarga membuat kebun sayur kecil di pekarangan rumah mereka sendiri. Bibitnya didistribusikan langsung dari hasil kebun komunitas yang telah sukses melewati fase penyemaian. Jadi, rantai pasok bibitnya berputar secara mandiri.
Satu hal yang bikin konsep BERISIK ini adaptif dan disukai masyarakat perkotaan adalah adanya hilirisasi dari hasil panen tersebut. Hasil panen dari kebun sekolah dan komunitas tidak dibiarkan begitu saja, tapi digunakan sebagai bahan utama untuk Cooking Class (Kelas Memasak) yang seru atau sering disebut gerakan Olah-Olah.
Aktivitas memasak bersama ini melibatkan kolaborasi antara ayah dan ibu bersama anak-anak mereka. Di beberapa wilayah seperti Surabaya, Bromo, Jember, dan Flores, hasil panen berupa ikan, telur, sayuran segar, lemon, pisang, hingga rempah-rempah langsung diolah menjadi makanan sehat bernutrisi tinggi. Ini adalah solusi cerdas untuk memutus ketergantungan anak pada makanan instan dan ultra-processed food yang marak di perkotaan. Anak-anak pun terbukti jauh lebih antusias makan sayur karena mereka ikut menanam dan memasaknya sendiri!
Program BERISIK ini sudah terbukti sukses dijalankan di berbagai daerah dengan karakteristiknya masing-masing, yang bisa kita jadikan studi kasus menarik untuk urban farming:
- Kawasan Tetirah Gayatri (Jawa Timur): Kegiatan belajar luar kelas (outdoor) bersama murid SDN Palangsari I. Anak-anak diajak mengenal tanaman secara langsung (seperti bunga lily, mawar, gerbera, padi, hingga bawang pre) sekaligus mendengarkan sejarah Kerajaan Majapahit secara interaktif. Mereka juga diajarkan tahapan bercocok tanam sejak dini, mulai dari menyemai benih, mencampur pupuk, hingga memindahkan bibit siap tanam.
- Jember: Aktivitas berkebun diintegrasikan sebagai bagian dari pembelajaran Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD/ECD). Selain itu, ada pemantauan rutin isi kotak bekal sekolah anak yang menunjukkan tren peningkatan gizi seimbang yang masif lewat kampanye makanan sehat setiap Sabtu.
- Tampak Siring (Bali): Pemerintah desa bekerja sama dengan pemerintah daerah dalam aktivitas ketahanan pangan. Mereka melibatkan institusi adat setempat (Banjar/Desa Adat) untuk mempraktikkan gerakan BERISIK dan Olah-Olah secara kompak bersama seluruh anggota keluarga.
- Surabaya, Bromo, dan Flores: Sangat sukses memetakan pemanfaatan hasil kebun mandiri untuk kelas memasak anak demi memotong angka konsumsi makanan instan.
Konsep Kebun Terpadu lewat gerakan BERISIK terbukti bukan semata urusan menanam tanaman di pot, tapi sebuah gerakan membangun karakter, melatih kerjasama, kesabaran, tanggung jawab, dan mempererat keharmonisan keluarga.
Dengan memanfaatkan sejengkal tanah di pekarangan rumah, balkon apartemen, atau sudut kosong di pemukiman warga, kita semua bisa menciptakan kebun perkotaan yang asik, edukatif, menyenangkan sekaligus mengenyangkan.
Ayo, buat kotamu jadi lebih “BERISIK”! Ambil sekopmu, siapkan benihmu, dan mari kita mulai berkebun karena Berkebun Itu Asik!