Deru ombak Laut Jawa memecah keheningan fajar di pesisir Sumenep. Di saat cahaya keemasan baru saja membiaskan garis horizon, aroma asin angin laut berembus lembut menyapu dedaunan hijau yang tumbuh tegak di atas hamparan tanah berpasir. Bagaimana mungkin lahan yang begitu dekat dengan hempasan air asin dapat melahirkan tanaman yang tumbuh subur dan ransek?
Bagi masyarakat pesisir Timur Madura, warna hijau di atas hamparan pasir adalah buah dari ketekunan, adaptasi ekologis, dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun. Di tepi pantai Sumenep, batas antara lautan dan daratan tidak pernah benar-benar memisahkan jalan hidup penghuninya. Masyarakat di sini menghidupi identitas ganda sebagai nelayan sekaligus petani. Kehidupan mereka bergerak dinamis mengikuti irama musiman dan pembacaan tanda-tanda alam. Ketika angin timur berembus tenang dan laut bersahabat, mereka adalah pelaut tangguh yang merajut jaring. Namun, saat musim tanam tiba dan laut sedang bergelora (pancaroba), jemari yang tadinya memegang kemudi perahu berubah menjadi jemari cekatan yang mengolah tanah pasir.
Dari hamparan pasir pesisir ini, lahirlah komoditas yang sangat berharga. Misal saja bawang merah varietas pesisir Sumenep yang tumbuh dengan keunggulan yang tidak dimiliki tempat lain. Kadar garam mikro di udara dan karakter tanah pasir menghasilkan bawang merah yang lebih renyah, beraroma tajam, serta memiliki kadar air rendah—sangat ideal untuk dijadikan bawang goreng berkualitas. Selain bawang, pekarangan pasir mereka juga dihiasi oleh tegakan kelapa, jagung pesisir yang tahan kering, hingga budidaya rumput laut di bentangan air dangkal.
Bertani di tepi pantai tentu penuh tantangan ekologis. Tanah pasir terkenal sangat porus—mudah meloloskan air dan miskin hara. Belum lagi ancaman intrusi air asin yang bisa meracuni akar tanaman. Lantas, bagaimana masyarakat pesisir Sumenep menyiasatinya?
Jawabannya terletak pada teknik adaptasi tradisional yang sangat presisi. Untuk mengikat nutrisi pada tanah pasir, para petani memanfaatkan racikan pupuk organik lokal, termasuk memadukan kotoran ternak dengan sisa-sisa limbah ikan dari hasil melaut. Tanah pasir yang tadinya tandus pun disulap menjadi media tanam yang kaya unsur hara.
Urusan air pun tak kalah menakjubkan. Para petani membuat sumur-sumur dangkal yang biasa disebut pantek di sekitar pematang pasir. Dengan pemahaman intuitif, mereka tahu persis bagaimana mengambil lapisan tipis air tawar yang “merapung” di atas lapisan air asin di dalam tanah. Ditambah dengan pemahaman sistem kalender tradisional untuk membaca pasang surut dan pergerakan angin laut, mereka berhasil menjaga tanaman dari paparan uap garam yang berlebihan.
Tak hanya soal teknik bercocok tanam dan hasil panen, pertanian pesisir Sumenep juga tentang spiritualitas dan ikatan sosial, di mana rasa syukur masyarakat diwujudkan dalam tradisi dan ritual adat yang memadukan penghormatan terhadap laut dan bumi.
Ritual rokat tasek (petik laut) dan rokat desa sering kali dilaksanakan berdampingan. Di sana, doa-doa dipanjatkan agar laut tetap memberikan ikan dan tanah pasir tetap melimpahkan panen yang berkah.
Semangat kebersamaan ini juga tercermin dalam sistem gotong royong lokal. Ketika masa olah tanah atau panen tiba, para petani saling membantu secara bergantian (maron). Kerja bersama ini menjadi kunci utama untuk menjaga kestabilan lahan pasir yang rapi agar tidak mudah rusak tergerus angin pantai.
Kini, tradisi bertani di tepi pantai Sumenep berhadapan dengan tantangan zaman. Perubahan iklim global memicu abrasi pantai dan peningkatan intrusi air laut yang semakin tidak menentu. Di sisi lain, laju alih fungsi lahan pesisir menjadi kawasan industri tambak atau pariwisata perlahan mulai menggeser keberadaan lahan-lahan pertanian tradisional ini.
Padahal, kearifan lokal bertani di pesisir Sumenep adalah bukti nyata resilience—ketahanan dan kecerdasan manusia dalam berharmoni dengan alam yang terbatas. Merekam, melestarikan, serta mendukung para petani pesisir ini dengan teknologi tepat guna adalah langkah krusial agar warisan budaya dan ketahanan pangan lokal ini tidak hilang tergerus ombak zaman.
Dari garis pantai Sumenep kita belajar bahwa di mana ada penghormatan yang tulus pada alam, di situ tanah pasir pun sanggup memberi kehidupan.