
Banyak anak Indonesia yang mengalami masalah kesehatan pada usia 0 hingga 12. Terdapat dua jenis penyakit yaitu kronis dan akut. Penyakit akut umumnya cepat muncul dan cepat disembuhkan seperti flu, diare , tifus/tipes, campak dan lain lain. Sedangkan penyakit kronis berlangsung lama minimal 3 bulan hingga seumur hidup, tidak dapat sembuh total, tetapi dikontrol agar kondisi tidak memburuk. Penyakit kronis bisa dipengaruhi oleh pola makan, aktivitas fisik, merokok, faktor lingkungan, dan bahkan genetik. Seringkali penyakit kronis menjangkit orang dewasa dan lanjut usia, namun secara data terdapat lonjakan penderita penyakit kronis di usia anak-anak. Berikut empat penyakit kronis yang sering diidap oleh anak Indonesia.
1. Diabetes Tipe 1
Menurut Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Piprim B Yanuarso, diabetes tipe 1 adalah kondisi ketika tubuh kekurangan produksi insulin akibat sistem imun keliru menyerang sel-sel pankreas yang seharusnya menghasilkan hormon tersebut. Penyakit ini bisa dialami siapa saja di berbagai kelompok usia, namun paling sering muncul pada anak-anak dan remaja. Penderita diabetes tipe 1 perlu mendapatkan suntikan insulin setiap hari sepanjang hidupnya untuk menjaga kadar gula darah tetap terkendali. Menurut data Changing Diabetes in Children (CDIC), hingga tahun 2025 tercatat 1.948 anak di Indonesia menjalani perawatan karena diabetes tipe 1. Angka ini menunjukkan peningkatan dibandingkan periode 2017–2019 yang hanya mencapai 1.249 anak. Menurut IDF (International Diabetes Federation) gaya hidup sehat yang menghindari makan berlebihan dan gaya hidup yang banyak bergerak direkomendasikan untuk kelompok berisiko tinggi, seperti saudara kandung dari anak-anak dengan diabetes tipe 1.
2. Obesitas & kegemukan
Obesitas adalah kondisi penumpukan lemak tubuh yang berlebihan sehingga menyebabkan berat badan jauh di atas normal. Berbeda dengan orang dewasa yang penilaiannya bisa cukup menggunakan Indeks Massa Tubuh (IMT/BMI), obesitas pada anak dihitung berdasarkan IMT menurut umur dan jenis kelamin (BMI-for-age percentile) sesuai grafik pertumbuhan WHO atau CDC. Seorang anak dikategorikan overweight bila IMT-nya berada pada persentil ke-85 hingga <95, dan disebut obesitas bila IMT berada pada ≥ persentil ke-95. Hingga 31 Januari 2023, data dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencatat bahwa prevalensi kasus diabetes pada anak mengalami peningkatan hingga 70 kali lipat. Sementara itu, hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa sekitar 19,7% anak usia 5–12 tahun di Indonesia mengalami kegemukan atau obesitas.
3. Stunting
Stunting mengacu pada gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak karena berbagai faktor seperti gizi buruk, infeksi berulang, dan stimulasi psikososial yang tidak memadai. Secara biologis, seorang anak dikategorikan stunting jika tinggi badan terhadap usianya lebih dari dua standar deviasi di bawah median Standar Pertumbuhan Anak Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Masalah ini tidak hanya dialami secara global, tetapi juga masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Walaupun dalam beberapa tahun terakhir angka stunting di Indonesia menunjukkan tren penurunan, prevalensinya tetap berada pada tingkat yang perlu diwaspadai. Berdasarkan hasil SKI 2023 ditemukan bahwa 1 dari 5 balita di Indonesia (21,5%) mengalami stunting dengan kasus terbanyak pada kelompok usia 2 sampai 3 tahun
4. Kanker Anak
Kanker adalah penyakit kronis yang terjadi ketika sel-sel dalam tubuh tumbuh secara abnormal, tidak terkendali, dan tidak mengikuti mekanisme normal pembelahan sel. Sel kanker dapat menyerang jaringan di sekitarnya (invasif) dan menyebar ke bagian tubuh lain melalui darah atau sistem getah bening, proses ini dikenal sebagai metastasis. Berbeda dengan sel normal yang memiliki siklus hidup teratur, sel kanker tidak mati sesuai waktunya, melainkan terus membelah, sehingga terbentuk massa atau benjolan yang disebut tumor ganas. Tidak semua tumor adalah kanker, karena ada juga tumor jinak yang tidak menyebar ke organ lain. Di Indonesia, setiap tahun terdapat sekitar 11.000 anak yang baru terdiagnosis kanker. Kasus kanker pada anak-anak di Indonesia sebetulnya cukup jarang, tapi penyakit ini merupakan salah satu penyebab utama kematian 90.000 anak setiap tahunnya. Jenis kanker yang menyerang anak umumnya berbeda dengan orang dewasa, kendati ada beberapa jenis kanker yang bisa muncul pada keduanya, jenis kanker tersebut diantaranya adalah leukimia, retinoblastoma, osteosarkoma, neuroblastoma, dan limfoma. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang dirilis melalui International Agency for Research on Cancer (IARC), pada tahun 2020 diperkirakan terdapat sekitar 8.677 anak Indonesia berusia 0–14 tahun yang menderita kanker. Angka ini menjadi yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara dibandingkan dengan negara-negara lain.
Kesehatan anak adalah harta yang tak ternilai, jauh lebih berharga dibandingkan biaya obat-obatan maupun waktu bermain yang hilang karena sakit. Sebagai orang tua, langkah sederhana yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan anak adalah dengan memasak sendiri makanan mereka. Dengan memperhatikan kandungan gizi, kebersihan proses memasak, serta kesegaran bahan makanan dan minuman, risiko anak mengalami penyakit kronis dapat ditekan sejak dini.
Referensi:
Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. (2023, September 24). Lindungi anak dari penyakit tidak menular, Kemen PPPA dorong orang tua perhatikan konsumsi gula, garam, dan lemak anak. KemenPPPA. https://kemenpppa.go.id/siaran-pers/lindungi-anak-dari-penyakit-tidak-menular-kemen-pppa-dorong-orang-tua-perhatikan-konsumsi-gula-garam-dan-lemak-anak
Hello Sehat. (2021, Juni 21). Kanker anak di Indonesia. Hello Sehat. https://hellosehat.com/parenting/kesehatan-anak/penyakit-pada-anak/kanker-anak-di-indonesia/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Laporan tematik Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023: Potret Indonesia sehat. Kementerian Kesehatan RI, Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. ISBN 978-623-301-455-7
Irmawan, M., Pasaribu, M. H., Sylvani, M. M., & Ysrafil, Y. (2023). Edukasi zat karsinogen sebagai pemicu kanker kepada siswa/siswi SMAN 2 Palangka Raya. Jurnal Mandala Pengabdian Masyarakat, 4(2), 317–321.