SURABAYA — Yayasan Arek Lintang (ALIT) Indonesia bersama Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surabaya merampungkan rangkaian acara Diseminasi Kalender Tengger bertajuk “Dari Tengger untuk Dunia”. Kegiatan yang berlangsung selama dua hari pada 15–16 Agustus 2026 di Wisma Jerman, Surabaya ini menyajikan pameran foto, tiga sesi diskusi publik, serta forum jejaring antarkomunitas.
Acara yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP, dan Dana Indonesiana tersebut dibuka secara resmi melalui seremoni dan peninjauan pameran foto. Pembukaan pameran dipimpin oleh Mgr. Tri Budi Utomo (Uskup Surabaya & Dewan Pembina ALIT) bersama Romo Eko Warnoto (Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon). Pameran ini menampilkan karya visual dari kurator Robertus Risky bersama para fotografer lainnya: Ranau Alejandro, Givenska Nadia, Muhammad Idham, dan Andre Yuris.
Menjaga Pengetahuan Adat dan Representasi Media
Rangkaian diskusi hari pertama, Sabtu (15/8), dibuka dengan Diskusi 1 bertema “Kalender Tengger & Pengetahuan Adat: Menjaga Ruang Hidup melalui Warisan Budaya”. Sesi ini menghadirkan Romo Eko Warnoto, Ibu Lucy Dyah (Dosen Antropologi FISIP Unair), Dr. Adrian Perkasa (Peneliti Postdoctoral KITLV Leiden), dan Yuliati Umrah (Direktur Eksekutif Yayasan ALIT Indonesia). Diskusi ini mengulas kedudukan Pranata Mangsa tidak semata sebagai sistem penanggalan, tetapi pedoman ekologi dan tata cara hidup masyarakat adat.
Masih di hari yang sama, Diskusi 2 yang mengangkat topik “Merekam Yadnya Karo: Jurnalisme dan Representasi Masyarakat Adat di Media” menghadirkan wartawan dari berbagai media, yaitu Rossa Handini (Harian Disway), Ambrosius Harto (Kompas), dan Jaswanto (Tatkala.co), dengan moderasi oleh Petrus Riski (Mongabay). Para panelis membedah tantangan serta etika peliputan media massa dalam menyajikan narasi masyarakat adat secara proporsional dan tidak sekadar komoditas jurnalistik agar esensi kearifan dan pengetahuan lokal tidak tereduksi dan menjadi objek wisatawan belaka.
Ancaman Ekologis dan Forum Kolaborasi
Pada hari kedua, Minggu (16/8), agenda dilanjutkan dengan Diskusi 3 bertajuk “Masa Depan Tengger: Pariwisata Massal dan Kerusakan Lingkungan”. Sesi ini menghadirkan Dr. Andriyanto (Pemerhati Kebudayaan) serta Abdul Haq (WALHI Jatim), yang dipandu oleh Rangga Prasetya Aji Widodo (Project Arek).
Dalam pemaparannya, Abdul Haq membeberkan data rilis krisis sosial-ekologis di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS). Berdasarkan data WALHI Jatim per 14 Agustus 2026, terjadi karhutla yang melahap hingga 1.120,2 hektar lahan di kawasan TNBTS. Kerusakan ekosistem ini dipicu oleh akumulasi krisis dari alih fungsi lahan, deforestasi, hingga tekanan ekspansi infrastruktur pariwisata yang mengancam kawasan tangkapan air dan kelestarian vegetasi endemik.
Seluruh rangkaian acara ditutup pada Minggu sore melalui Forum Jejaring “Urun Rembug untuk Tengger”. Forum ini menjadi ruang terbuka bagi perwakilan instansi pemerintah, organisasi masyarakat sipil, komunitas, media, dan warga Surabaya untuk membangun kolaborasi konkret dalam upaya pelestarian budaya serta perlindungan kawasan adat Tengger ke depan.