SURABAYA — Sudah lebih dari dua minggu sejak gempa bumi M7.7 mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur. BMKG mencatat hingga 4 September 2026 pukul 05.00 WIB, telah terjadi 12.064 kali gempa susulan pascaguncangan pertama, dengan 172 di antaranya dirasakan warga. Kondisi ini membuat masa tanggap darurat diperpanjang hingga 12 September 2026.
Dampak guncangan juga dirasakan di wilayah dampingan Yayasan ALIT Indonesia di Desa Nita dan Sikka, Kabupaten Sikka. Kerusakan tidak hanya berwujud fisik, tetapi juga menyisakan rasa takut dan ketidakpastian mendalam bagi anak-anak akibat gempa susulan yang terus berulang.
Koordinator Wilayah ALIT Indonesia area Flores, Metodius Adolfus Pagi, menuturkan bahwa kawasan Nita dan Sikka umumnya tidak mengalami kerusakan bangunan yang parah. Mayoritas hanya berupa keretakan pada dinding rumah akibat gempa utama pada 15 Agustus 2026 lalu. Namun, musibah berat dialami keluarga anak dampingan ALIT, Giscaya Lehan dan adiknya, Felixia Keron, yang dapur rumahnya roboh total, padahal bangunan tersebut baru saja selesai didirikan.
Meski kerusakan fisik tergolong minim, situasi masyarakat belum sepenuhnya pulih. Gempa susulan yang terus terjadi membuat warga dan anak-anak merasa belum aman. Metodius melaporkan bahwa anak-anak kini sudah mulai beristirahat di dalam rumah dan kondisi umumnya cukup baik. Meski begitu, beberapa anak terserang flu berat akibat tinggal di tenda darurat selama hampir dua minggu.
“Yang paling besar dirasakan masyarakat sebenarnya adalah dampak traumatis atau psikis. Apalagi dengan banyaknya gempa susulan, tentu menimbulkan rasa tidak aman dalam kehidupan sehari-hari,” jelas Metodius.
Guna mengembalikan ritme kehidupan, aktivitas sekolah tingkat SD hingga SMA mulai dibuka sejak Senin (31/8) dengan durasi dan jumlah siswa terbatas. Kegiatan pembelajaran belum berfokus pada materi akademik, melainkan diprioritaskan pada simulasi kebencanaan dan trauma healing agar anak-anak kembali merasa aman. Sementara itu, anak-anak usia TK dan PAUD belum diperbolehkan kembali ke sekolah.
Bagi Metodius, pemulihan anak-anak tidak cukup hanya dengan mengembalikan mereka ke ruang kelas. “Yang paling dibutuhkan dalam masa pemulihan ini untuk anak-anak adalah trauma healing dan pemenuhan gizi,” ujarnya.
Tantangan lain yang dihadapi warga Flores saat ini adalah krisis air bersih di tengah musim kemarau. Di wilayah seperti Ladogahar dan Nitakloang, jaringan PDAM belum menjangkau pemukiman sehingga warga harus membeli air seharga Rp250.000 per 5.000 liter.
Mahalnya harga air bersih semakin memberatkan perekonomian keluarga yang merosot pascabencana. Pada dua minggu pertama, banyak orang tua belum bisa kembali berkebun atau melaut. Saat ini, walau aktivitas ekonomi mulai berangsur pulih, kebutuhan dasar keluarga masih sulit terpenuhi.
Minimnya kerusakan fisik di Nita dan Sikka juga berdampak pada minimnya bantuan yang masuk. Padahal, kebutuhan pokok keluarga terdampak seperti Giscaya dan Felixia tetap berjalan. Bantuan mendesak yang dibutuhkan warga saat ini meliputi bahan pangan utama seperti beras, telur, dan sembako lainnya.
Situasi ini menunjukkan bahwa pemulihan pascabencana tidak berhenti saat warga kembali menghuni rumah. Bagi anak-anak Flores, selamat dari gempa utama hanyalah langkah awal. Mereka masih membutuhkan pendampingan, asupan gizi yang cukup, dan dukungan berkelanjutan hingga benar-benar kembali pulih.