Surabaya – Alit Indonesia baru saja menyelenggarakan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) yang berlangsung pada tanggal 9–12 Juni 2025 bertempat di Pusat Konservasi Kebudayaan Alit Indonesia, Tetirah Gayatri. Kegiatan ini menjadi momen penting bagi konsolidasi internal lembaga dalam memperkuat arah gerakan dan strategi pengembangan program selama satu tahun ke depan. Rakernas dihadiri oleh jajaran Dewan Board, tim pelaksana nasional, perwakilan daerah, serta mitra pendukung yang turut mendorong keberlanjutan kerja-kerja advokasi dan pemberdayaan anak usia dini.
Rakernas secara resmi dibuka oleh yang mulia Uskup Surabaya sekaligus ketua dewan board, Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo, yang dalam sambutannya menekankan bahwa rakernas sebagai ajang untuk refleksi dan memperjuangkan hal-hal kemanusiaan, hal ini berarti, sejauh kita memperjuangkan kemanusiaan, kita sedang memperjuangkan spiritual, hal ini secara tidak langsung menyatakan akan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam menciptakan ekosistem tumbuh kembang anak yang sehat dan berkeadilan. Kehadiran tokoh agama dalam pembukaan ini menjadi penanda bahwa kerja perlindungan dan pemberdayaan anak merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa. Pembukaan rakernas tersebut juga menjadi refleksi atas komitmen Alit Indonesia untuk terus menjadi penggerak perubahan sosial berbasis budaya dan komunitas.

Selama empat hari pelaksanaan Rakernas, berbagai agenda strategis dibahas secara mendalam. Di antaranya adalah pertemuan Dewan Board untuk menandatangani akta organisasi, rapat evaluasi kinerja organisasi dan perumusan rencana kerja dan keuangan tahunan. Selain itu, sesi perencanaan program tahunan diisi dengan diskusi partisipatif lintas divisi untuk menyelaraskan visi kerja lembaga dengan dinamika lapangan yang terus berkembang. Fokus utama perencanaan diarahkan pada penguatan program Early Child Development (ECD) serta pemantapan sistem monitoring dan evaluasi berbasis komunitas.

Rakernas juga diisi dengan kegiatan Training of Trainers (ToT) modul ECD yang ditujukan bagi para orang tua dan pendamping anak di komunitas. Pelatihan ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas lokal dalam memberikan stimulasi yang sesuai pada masa-masa krusial tumbuh kembang anak. Tak hanya itu, peserta juga mengikuti pelatihan pendokumentasian sebagai upaya menguatkan narasi dan visibilitas praktik, baik yang selama ini telah dilakukan di berbagai wilayah dampingan Alit Indonesia. Pendokumentasian dinilai penting untuk mendorong advokasi kebijakan dan peningkatan dukungan publik.
Pada hari terakhir pelaksanaan rakernas ini, Alit Indonesia menegaskan kembali komitmennya dalam memperjuangkan pemenuhan hak-hak anak melalui pendekatan berbasis keluarga dan budaya lokal. Melalui kerja bersama yang sinergis antara pengurus pusat, komunitas, dan mitra strategis, diharapkan program-program ke depan dapat berjalan lebih terarah, terukur, dan berdampak luas bagi masyarakat. Rakernas ini bukan hanya ruang evaluasi dan perencanaan, tetapi juga menjadi titik temu inspiratif untuk memperkuat semangat kolektif dalam membangun masa depan anak Indonesia yang lebih baik. (RA)