
Attention-Deficit/Hyperactivity Disorder (ADHD) adalah gangguan perkembangan saraf yang menyebabkan anak mengalami kesulitan dalam memusatkan perhatian, mengendalikan perilaku, dan mengatur impuls. Kondisi ini bukan disebabkan oleh kemalasan atau kurang disiplin, melainkan karena fungsi otak bagian prefrontal cortex (area yang mengatur fokus dan kontrol diri) bekerja kurang optimal. Anak dengan ADHD biasanya memiliki aktivitas dopamin dan norepinefrin yang rendah, dua zat kimia otak yang berperan penting dalam mengatur perhatian dan motivasi. Akibatnya, anak tampak sulit diam, mudah terdistraksi, dan sulit mengikuti aturan meskipun sudah berusaha. Beberapa gejala ADHD pada anak:
A. Kesulitan Memusatkan Perhatian (Inatentif)
- Mudah terdistraksi dan sulit fokus pada satu kegiatan.
- Sering lupa menyelesaikan tugas atau kehilangan barang penting.
- Tampak tidak mendengarkan saat diajak bicara atau diberi instruksi.
B. Hiperaktivitas
- Sulit duduk diam, selalu bergerak atau gelisah.
- Berbicara berlebihan dan sering menyela pembicaraan orang lain.
- Aktif berlebihan, misalnya berlari atau memanjat di situasi yang tidak sesuai.
C. Impulsivitas
- Sering bertindak tanpa berpikir, misalnya menjawab sebelum selesai ditanya.
- Sulit menunggu giliran dalam permainan atau aktivitas kelompok.
- Mudah marah atau frustrasi saat tidak mendapatkan keinginannya.
ADHD tidak hanya dapat dikendalikan dengan obat, tetapi juga melalui terapi nonfarmakologis seperti latihan kognitif, aktivitas fisik, dan stimulasi sosial. aktivitas tersebut terbukti dapat meningkatkan kadar dopamin dan BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor), yaitu protein yang menumbuhkan dan memperkuat koneksi antar sel otak. Dengan kata lain, melalui permainan, olahraga, dan hubungan sosial yang positif, otak anak distimulasi untuk belajar mengatur diri sendiri, memperbaiki fungsi jaringan saraf prefrontal, dan menyeimbangkan kembali sistem dopamin yang berperan dalam perhatian dan perilaku. Permainan tradisional Indonesia memiliki potensi besar sebagai sarana alami untuk melatih fokus, kontrol diri, dan kemampuan sosial anak yang menjadi elemen penting dalam pencegahan serta terapi ADHD.
1. Engklek
Engklek melatih koordinasi motorik, keseimbangan, serta konsentrasi visual dan urutan langkah. Saat anak melompat mengikuti pola angka, mereka belajar fokus pada urutan, mengontrol gerakan tubuh, dan menjaga keseimbangan. Semua melibatkan kerja otak bagian cerebellum dan prefrontal cortex. Aktivitas ini juga meningkatkan pelepasan dopamin dan BDNF (Brain-Derived Neurotrophic Factor), yang membantu pertumbuhan koneksi saraf baru.
2. Gobak Sodor
Gobak sodor menuntut strategi, kerja sama tim, dan pengendalian impuls. Anak harus memperhatikan posisi lawan, menunggu waktu yang tepat untuk bergerak, serta menahan diri agar tidak tertangkap. Proses ini melatih fungsi eksekutif otak, kemampuan mengatur perilaku, membuat keputusan cepat, dan berpikir sebelum bertindak. Selain itu, interaksi sosial dalam permainan meningkatkan empati dan keterampilan sosial anak.
3. Congklak
Congklak melibatkan perencanaan, perhitungan, dan prediksi langkah lawan, sehingga sangat efektif untuk melatih memori kerja dan konsentrasi jangka panjang. Anak belajar menunggu giliran, menghitung dengan cermat, dan menahan dorongan untuk bertindak terburu-buru. Aktivitas seperti ini membantu memperkuat konektivitas antara prefrontal cortex dan hippocampus, area otak yang penting untuk berpikir logis dan mengingat informasi.
Beberapa permainan tradisional lain juga bisa melatih fokus, kontrol diri, dan stimulasi sosial pada anak seperti bekel, balap karung, kelereng, egrang, dan petak umpet. Efektivitas permainan tradisional ini akan meningkat jika orang tua turut terlibat secara aktif. Pendampingan penuh kasih saat bermain dapat menurunkan hormon stres (kortisol) anak dan menumbuhkan rasa aman emosional. Peran orang tua tidak hanya sebagai pengawas, tetapi sebagai pengarah, pendamping emosional, dan model perilaku positif. Orang tua yang memberikan pujian, dukungan, dan interaksi positif juga menstimulasi pelepasan dopamin alami, efek biologis yang membantu menyeimbangkan sistem saraf anak ADHD.
Daftar Pustaka
- Halperin, J. M., Bédard, A.-C. V., & Curchack-Lichtin, J. T. (2012). Preventive interventions for ADHD: A neurodevelopmental perspective. Child and Adolescent Psychiatry and Mental Health, 6(39). DOI 10.1007/s13311-012-0123-z
- Salari, N., Fatahi, B., Valipour, E., Kazeminia, M., Mohammadi, M., Shohaimi, S., Khaledi-Paveh, B., & Jalali, R. (2023). The global prevalence of ADHD in children and adolescents: A systematic review and meta-analysis. Italian Journal of Pediatrics, 49(1), 45. https://doi.org/10.1186/s13052-023-01456-1
- Danielson, M. L., Bitsko, R. H., Terry, C., Ghandour, R. M., McKeon, R., & Blumberg, S. J. (2024). ADHD prevalence among U.S. children and adolescents in 2022: Diagnosis, severity, co-occurring disorders, and treatment. Journal of Clinical Child & Adolescent Psychology, 53(2), 234–247. https://doi.org/10.1080/15374416.2024.2335625
Penulis: Putera Ramadhan (Staff MIS Alit Indonesia)