JEMBER, 24 Agustus 2026 — Pengetahuan leluhur tentang alam, perubahan musim, pertanian, dan tata kehidupan masyarakat menjadi bagian penting dari warisan budaya yang relevan untuk terus dipelajari dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Berangkat dari semangat tersebut, Alit Indonesia melalui Sekretariat Wilayah Jember akan menyelenggarakan Sarasehan “Penanggalan Pranata Mangsa dan Pengetahuan Adat Tengger: Menjaga Ruang Hidup dengan Warisan Budaya.”
Kegiatan ini berlangsung pada Senin, 24 Agustus 2026, pukul 14.00–16.30 WIB, bertempat di Auditorium R. Soemitro RRI Jember.
Sarasehan telah menjadi ruang belajar dan dialog bersama untuk menggali kembali Pranata Mangsa, sebuah sistem pengetahuan Jawa kuno yang digunakan masyarakat untuk membaca perubahan musim dan menentukan waktu yang tepat dalam kegiatan pertanian.
Pengetahuan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penanggalan, tetapi juga memperlihatkan hubungan erat antara manusia, alam, pangan, dan ruang hidup. Dalam praktik pertanian leluhur, kemampuan membaca tanda-tanda alam, kedekatan dengan lingkungan, serta pemanfaatan bahan-bahan organik menjadi bagian dari pengetahuan yang diwariskan antargenerasi.
Mempertemukan Pengetahuan Pranata Mangsa dan Adat Tengger
Selain membahas Pranata Mangsa, sarasehan juga memperkenalkan dan memperkuat pemahaman mengenai adat, tradisi, serta pengetahuan masyarakat Tengger.
Forum ini diharapkan dapat menjadi ruang untuk melihat masyarakat Tengger berdasarkan identitas budaya dan sejarahnya sendiri, sekaligus meluruskan sejumlah pandangan umum yang kurang tepat mengenai masyarakat Tengger. TOR kegiatan mencatat bahwa adat dan kepercayaan Tengger memiliki perkembangan sejarah dan ruang budaya tersendiri, sehingga identitas Tengger perlu dipahami dengan kekhasannya sendiri.
“Tengger ya Tengger, dengan kekhasan dan identitas budayanya sendiri,” menjadi salah satu prinsip penting yang ingin ditekankan melalui ruang dialog ini.
Menghubungkan Budaya, Pertanian, Pangan, dan Keberlanjutan
Sarasehan membahas sejumlah isu, antara lain Pranata Mangsa sebagai pengetahuan membaca alam dan menentukan waktu bercocok tanam, praktik pertanian leluhur, hubungan manusia dengan alam dan pangan, serta pengetahuan adat dan tradisi masyarakat Tengger.
Selain itu, forum membicarakan pentingnya menjaga, mendokumentasikan, dan meneruskan pengetahuan lokal kepada generasi muda.
Melalui pembahasan tersebut, kegiatan ini tidak sekadar melihat warisan budaya sebagai peninggalan masa lalu. Pengetahuan leluhur dipandang sebagai sumber pembelajaran yang dapat membantu masyarakat memahami alam, menjaga pangan, merawat hubungan sosial, sekaligus mempertahankan ruang hidup.
Ruang Dialog Lintas Generasi dan Lintas Latar Belakang
Sarasehan dikemas dalam bentuk diskusi partisipatif dengan melibatkan tokoh adat, pelaku budaya, mahasiswa, pendamping masyarakat desa, serta peserta dari berbagai latar belakang.
Peserta yang ditargetkan antara lain mahasiswa lintas perguruan tinggi, pegiat kebudayaan, pegiat seni, akademisi, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, serta Dinas Pendidikan.
Pertemuan ini diharapkan tidak berhenti pada pertukaran pengetahuan, tetapi menjadi ruang untuk membangun penghargaan terhadap keragaman pengetahuan lokal dan mendorong upaya bersama dalam menjaga warisan pengetahuan leluhur.
Pada akhirnya, peserta diharapkan memperoleh pemahaman yang lebih utuh mengenai Pranata Mangsa, praktik pertanian berbasis pengetahuan lokal, serta adat dan identitas masyarakat Tengger. Sarasehan juga diharapkan membuka ruang dialog untuk menghargai keberagaman budaya dan memperkuat upaya meneruskan pengetahuan lokal kepada generasi muda.
Melalui kegiatan ini, Alit Indonesia mendorong agar warisan budaya dipahami bukan sekadar sebagai peninggalan masa lalu, melainkan sebagai pengetahuan hidup yang dapat terus memberi makna bagi masyarakat dalam membaca alam, menjaga pangan, merawat hubungan sosial, dan mempertahankan ruang hidup.