
SURABAYA — Yayasan Arek Lintang (ALIT) Indonesia didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP, dan Dana Indonesiana menyelenggarakan kegiatan Diseminasi Agenda Tanam Basis Kalender Tengger dan Pelestarian Budaya Bertani Ramah Lingkungan pada 5 September 2026 di Candi Kidal, Lembah Gunung Bromo, Kabupaten Malang.
Kegiatan ini mengangkat kembali sistem astronomi dan kearifan lokal Jawa Kuno melalui penanggalan Pranata Mangsa berbasis Kalender Tengger. Kalender Jawa kuno berdasarkan rumus hitung mangsa digunakan sebagai dasar menjalankan agenda aktivitas sehari-hari, baik aktivitas pertanian, beternak, nelayan, hubungan sosial dan norma adat, rumah tangga, hingga kehidupan pribadi serta spiritual.
Kalender Pranata Mangsa basis Jawa Kuno berlaku di seluruh wilayah kekuasaan kerajaan hingga era Majapahit berakhir (abad 16). Namun, kini masih menjadi dasar penanggalan bagi suku Tengger di seluruh wilayah (Pasuruan, Malang, Lumajang, dan Probolinggo) dalam agenda sehari-hari.
Praktik penanaman basis penanggalan Tengger ini telah diterapkan oleh Ibu Yuliati Umrah, Direktur Eksekutif Yayasan ALIT Indonesia sekaligus Peneliti dan Praktisi Pranata Mangsa Basis Kalender Tengger. Dalam pemaparannya sebagai narasumber pada acara tersebut, ia menyampaikan bahwa selain keberhasilan uji coba tanam padi dalam galon pada Maret hingga Juli lalu di ketinggian 750 mdpl (Pandaan), sistem ini juga sukses diterapkan pada penanaman bunga di ketinggian 1.000 mdpl.
Sistem penanggalan yang dikalibrasi secara berkala melalui upacara Unan-Unan ini menjadi acuan penting dalam menjaga ketahanan pangan, menentukan pola tanam, hingga menjaga harmoni ekosistem di kawasan Bromo-Semeru.
Dalam kesempatan ini, para narasumber menegaskan pentingnya kembali pada tuntunan leluhur yang berlandaskan tiga nilai utama kehidupan: Prahyangan, Pawongan, dan Palemahan demi menghadapi tantangan perubahan iklim dan kerusakan lingkungan.
Salah satu narasumber, yakni Ketua Paruman Dukun Pandita Tengger Brang Kulon, Romo Eko Warnoto, menjelaskan bahwa Prahyangan merupakan hubungan yang harmonis antara manusia dengan Sang Pencipta, di mana manusia telah senantiasa melakukannya sehari-hari, misalnya, berdoa, sembahyang, maupun melaksanakan upacara keagamaan.
Kemudian, Pawongan sendiri adalah hubungan yang harmonis dengan sesama manusia sebab manusia tidak dapat hidup sendiri dan saling bergantung satu sama lain. Dalam konteks pertanian, misalnya, petani membutuhkan bantuan gotong royong serta pertukaran pengetahuan untuk menghasilkan panen yang optimal.
Sementara itu, Palemahan ialah hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam. Romo Eko Warnoto menyampaikan bahwa Palemahan adalah yang terpenting sebab manusia wajib merawat, menjaga, dan memperlakukan alam dengan sebaik-baiknya. Sama seperti manusia, ada kalanya alam memerlukan waktu istirahat. Dalam penanggalan Tengger, periode ini diwadahi melalui Mangsa Karo, yaitu masa ketika masyarakat tidak menanam dan hanya memanen hasil bumi demi memberi waktu bagi alam untuk memulihkan diri. Tak hanya itu, masih berkaitan dengan Palemahan, masyarakat Tengger berprinsip: menanam dahulu sebelum menebang pohon. Prinsip tersebut telah dilakukan turun-temurun untuk menjaga alam, juga agar resapan air tetap terjaga.
Senada dengan hal tersebut, Sekjen Aliansi Petani Indonesia (API), Muh. Nur Uddin (Gus Din), menyampaikan pandangannya dengan nada santai dan diselingi humor. Ia menekankan bahwa pendekatan berbasis kearifan lokal seperti Kalender Tengger harus terus didukung agar petani tidak asing di tanahnya sendiri di tengah gempuran modernisasi pertanian. Selain itu, ia menekankan pentingnya penanganan hama berbasis pendekatan ramah lingkungan demi mencegah kerusakan alam dan menjaga keberlanjutan bagi generasi mendatang. Gus Din pun mengapresiasi inisiatif kolaborasi antara Yayasan ALIT Indonesia dan masyarakat adat Tengger ini. Menurutnya, ruang-ruang dialog kebudayaan seperti ini penting untuk mempererat solidaritas antarkomunitas petani di Jawa Timur.