
Surabaya, 21 Juni 2025 — Sekelompok anak dari kawasan tepian rel di Surabaya tampil membawakan lagu-lagu tradisional dalam pagelaran Festive de la Musique di Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya, Jumat (21/6). Mereka merupakan anak-anak dampingan Yayasan Alit Indonesia yang didampingi dalam program pendidikan alternatif berbasis budaya. Dalam balutan busana tradisional sederhana, anak-anak tersebut membawakan dua lagu daerah Indonesia, yakni Suwe Ora Jamu dan Ampar-Ampar Pisang. Penampilan mereka diiringi alat musik seperti angklung, kentongan, dan rebana yang dimainkan sendiri oleh anak-anak. Meskipun berasal dari lingkungan dengan keterbatasan akses terhadap pendidikan dan seni, mereka tampil percaya diri di hadapan ratusan penonton dari berbagai kalangan.
Acara Festive de la Musique merupakan acara tahunan yang diselenggarakan pada setiap tanggal 21 Juni oleh Institut Francais Indonesia sebagai bagian dari perayaan musik dunia. Tahun ini, tema inklusivitas diangkat untuk menghadirkan keberagaman ekspresi budaya, termasuk partisipasi anak-anak marjinal dari Surabaya.
“Kami ingin anak-anak ini mendapatkan ruang aman dan layak untuk mengekspresikan diri mereka. Mereka punya potensi, hanya saja jarang diberikan kesempatan,” ujar Yuliati Umrah, Direktur Eksekutif Yayasan Alit Indonesia, di sela-sela acara.
Penampilan anak-anak binaan ALIT menjadi salah satu yang paling menarik perhatian. Beberapa pengunjung bahkan tampak ikut menyanyikan lagu Suwe Ora Jamu yang sudah akrab di telinga masyarakat Indonesia. Suasana menjadi hangat dan penuh semangat ketika anak-anak menyanyikan lagu Ampar-Ampar Pisang sambil menari dan menggerakkan alat musik mereka secara serempak.

meskipun berada dalam keterbatasan, hal ini tidak menyurutkan antusiasme anak-anak untuk berlatih, meski menggunakan alat musik yang sederhana. Mereka menggunakan ruang terbuka di dekat pemukiman mereka. Proses persiapan dilakukan selama lebih dari empat minggu dan dibimbing oleh relawan seni dan pekerja sosial dari ALIT.
“Saya senang bisa tampil di sini. Rasanya seperti mimpi,” ujar Rara, salah satu anak yang membawakan lagu Suwe Ora Jamu. Adzra, 10 tahun, merupakan anak ketiga dari lima bersaudara yang tinggal di dekat rel kawasan Wonokromo.
Acara ditutup dengan tepuk tangan panjang dari penonton. Beberapa tamu undangan bahkan mengajak anak-anak berfoto dan memberikan pujian atas penampilan mereka.Penampilan ini diharapkan bukan hanya menjadi pengalaman sekali tampil bagi anak-anak tersebut, melainkan membuka jalan untuk lebih banyak ruang partisipasi budaya yang inklusif bagi anak-anak dari kelompok rentan di Surabaya dan sekitarnya. (EA)