
SSurabaya, 21 Juni 2025 — Dalam rangka memeriahkan Festival hari musik sedunia yang diselenggarakan oleh Institut Français Indonesia (IFI) Surabaya dengan tema Festive de la Musique. sekelompok remaja binaan Yayasan ALIT Indonesia turut membuka stand makanan dan minuman sehat yang dikelola di bawah manajemen Toko Gallery Dewa Dewi Ramadaya, Jumat (21/6).
Stand ini menawarkan dua produk unggulan: minuman lemon segar dari lemon organik dan roti panggang dengan selai pisang organik home made sebagai topping. Bahan-bahan yang digunakan berasal dari kebun milik komunitas Tetirah Gayatri, yang terletak di lereng Gunung Bromo. Komunitas remaja binaan Alit indonesia yang berada di bawah payung besar “Dewa Dewi Ramadaya” selama ini dikenal sebagai salah satu penghasil bahan pangan organik yang dikelola secara berkelanjutan oleh warga desa dan mitra binaan ALIT.
“Ini pertama kalinya kami membawa produk olahan sendiri ke ruang publik seluas ini,” ujar Marcelino (23), salah satu remaja binaan yang bertugas sebagai kasir dan peracik minuman. “Kami bangga karena semua bahannya kami tahu asal-usulnya, dan kami yang mengolah sendiri.”

Para remaja ini telah mengikuti pelatihan kewirausahaan sosial dan manajemen toko kecil dalam program penguatan ekonomi komunitas yang diinisiasi oleh ALIT sejak 2023. Produk yang dijual tidak hanya memperkenalkan hasil pertanian organik desa, tetapi juga melatih remaja untuk terlibat langsung dalam dunia usaha secara bertanggung jawab dan berbasis nilai-nilai etika produksi.
“Ini bukan sekadar jualan,” ujar Yuliati Umrah, Direktur Eksekutif Yayasan ALIT Indonesia. “Mereka belajar tentang rantai nilai-dari kebun sampai ke tangan konsumen. Mereka juga belajar tentang cara berkomunikasi, melayani pelanggan, menjaga kebersihan, dan mengelola uang.”
Stand tersebut mendapat sambutan positif dari pengunjung. Banyak yang datang tidak hanya karena rasa penasaran terhadap produk lokal, tetapi juga karena tertarik dengan kisah di baliknya, sementara itu, pisang yang digunakan untuk topping roti berasal dari varietas lokal yang ditanam tanpa pupuk kimia, dipanen langsung oleh warga desa yang tergabung dalam jaringan pertanian organik mitra ALIT. Roti dibuat menggunakan metode oven tradisional dan diolah secara terbatas agar tetap segar saat disajikan.
Meski hanya dibuka selama acara berlangsung, banyak pengunjung yang berharap produk ini bisa tersedia secara reguler. Beberapa di antaranya bahkan meminta kontak untuk pemesanan ulang.
Partisipasi remaja binaan ALIT dalam ajang ini menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang tepat, anak muda dari latar belakang rentan pun mampu menunjukkan kapasitas mereka dalam dunia kewirausahaan — tidak sekadar menjual produk, tetapi juga membawa nilai sosial, keberlanjutan, dan kebanggaan terhadap potensi lokal.(EA)