Pernah nggak, sih, kamu melihat seorang anak yang di sekolahnya terlihat sangat mandiri, bahkan cenderung lebih dewasa dibanding usianya? Atau sebaliknya, anak yang sangat pemalu, sering menarik diri, dan takut setiap kali harus memulai pertemanan baru?
Di media sosial, istilah fatherless makin sering berseliweran. Tetapi, mari kita dudukkan maknanya dengan jujur. Fatherless itu sebenarnya bukan semata tentang seorang anak yang kehilangan ayahnya karena takdir kematian atau perceraian. Lebih dalam dari itu, fenomena ini juga memeluk erat realitas anak-anak yang memiliki ayah secara fisik di rumah, tapi sang ayah absen secara emosional. Ayah yang dingin, jarang mengobrol, atau menganggap tugasnya selesai hanya dengan memberikan nafkah materi.
Bicara soal fatherless, Fenomena ini sangat berdampak pada cara anak-anak tumbuh dan bagaimana mereka membangun relasi sosial dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk melihat potret ini secara nyata, kita bisa berkaca pada literatur riset dari Niken Pramesti Anindria (2025) dari UPN “Veteran” Jawa Timur yang berjudul “Perempuan, Fatherless, dan Hubungan Romantis”. Dari data risetnya, terungkap bahwa mayoritas jenis fatherless justru bersumber dari ketidakhadiran ayah secara emosional (38%) dan penelantaran (20%). Sisanya diikuti oleh faktor perceraian dan kematian.
Artinya, banyak anak di sekitar kita yang sedang tumbuh dalam kondisi rumah yang utuh, tapi batinnya meraba-raba dalam kegelapan karena kehilangan figur pelindung. Lalu, bagaimana luka ini memengaruhi cara anak-anak berelasi dengan dunianya? Mari kita bahas perlahan.
- Menjadi Si Super Mandiri yang Takut Meminta Tolong
Dalam konsep perkembangan psikologi, figur ayah adalah gerbang pertama bagi anak untuk melihat dunia luar (setelah ibu menjadi simbol kenyamanan di dalam rumah). Ayah seharusnya mengajarkan rasa aman saat anak mengeksplorasi hal baru.
Ketika figur ini absen, anak-anak sering kali mengembangkan mekanisme pertahanan diri yang ekstrem: mereka dipaksa menjadi terlalu mandiri sebelum waktunya. Dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak ini tumbuh menjadi sosok yang enggan meminta bantuan orang lain, bahkan saat mereka kesulitan di sekolah atau komunitas. Di balik label “anak mandiri dan penurut” yang sering dipuji orang dewasa, sebenarnya ada kecemasan mendalam, “Aku cuma bisa mengandalkan diriku sendiri karena orang yang seharusnya melindungiku saja tidak ada.”
2. Sulit Percaya (Trust Issues) pada Teman Sebaya
Relasi yang sehat selalu dibangun di atas fondasi kepercayaan. Sayangnya, anak-anak dengan kondisi fatherless (terutama akibat penelantaran atau absen emosional) kehilangan cetak biru (blueprint) kepercayaan tersebut di dalam rumah mereka sendiri.
Saat berelasi dengan teman sebaya atau masuk ke kelompok bermain yang baru, mereka sering kali menjadi sangat waspada. Ada kecenderungan mereka sulit memercayai ketulusan orang lain. Mereka selalu bersiap untuk skenario terburuk–ditinggalkan atau ditolak. Akibatnya, anak-anak ini bisa menjadi sangat selektif dalam berteman, atau justru memilih untuk tidak memiliki teman dekat sama sekali demi menjaga hatinya agar tidak terluka.
3. Haus Validasi atau Menjadi People Pleaser
Ayah adalah sosok pertama yang memberikan pengakuan bagi anak bahwa mereka mampu dan berharga. Pujian kecil dari seorang ayah seperti, “Wah, kamu hebat ya hari ini!” adalah asupan gizi yang luar biasa bagi rasa percaya diri (image of self) sang anak.
Tanpa adanya validasi itu, anak-anak tumbuh dengan tangki emosi yang kosong. Di sekolah atau lingkungan sosial, rasa haus akan pengakuan ini sering kali bermanifestasi menjadi perilaku people pleaser–anak yang selalu berusaha menyenangkan semua orang demi bisa diterima. Mereka takut berkata “tidak” pada teman-temannya, takut membuat orang lain kecewa, dan rela mengorbankan kenyamanan dirinya sendiri asalkan mereka tidak disisihkan dari kelompok.
4. Pola Komunikasi yang Cenderung Menutup Diri atau Meledak-ledak
Riset Niken (2025) menekankan bahwa jenis fatherless akibat ketidakhadiran emosional dan penelantaran adalah yang paling rentan membuat anak mengalami kesulitan komunikasi. Di dunia nyata anak-anak, hal ini terlihat jelas saat mereka menghadapi konflik kecil dengan temannya (misalnya, rebutan mainan atau salah paham saat kerja kelompok) yang dapat dikategorikan menjadi:
- Kelompok pertama: akan memilih jalan withdrawal (menarik diri). Mereka memendam amarah, mendiamkan masalah, dan memilih mengisolasi diri di kamar karena bingung bagaimana cara mengekspresikan kekecewaan.
- Kelompok kedua: bisa merespons dengan ledakan emosi yang agresif karena tidak pernah diajarkan manajemen emosi yang tenang oleh figur ayah, konflik kecil bisa memicu rasa terancam yang luar biasa dalam diri mereka. Sehingga direspons dengan kemarahan yang meluap.
Membaca bagian demi bagian dari dampak ini mungkin membuat dada kita terasa sesak. Kita mungkin teringat pada anak-anak di sekitar kita, atau bahkan teringat pada masa kecil kita sendiri. Namun, status sebagai anak yang bertumbuh dengan kondisi fatherless bukanlah sebuah cap bahwa masa depan relasi sosial mereka akan rusak selamanya. Anak-anak memiliki sifat resilient (kemampuan bangkit) yang luar biasa jika mereka mendapatkan ruang aman yang tepat.
Luka ini bisa disembuhkan secara perlahan melalui kehadiran support system yang peka. Guru di sekolah, paman, kakek, atau komunitas sosial bisa hadir sebagai “figur pengganti” yang memberikan kehangatan dan validasi yang sempat hilang. Mengasuh anak bukanlah tugas tunggal. Anak-anak tidak hanya butuh dicukupi kebutuhan fisiknya, tapi hatinya perlu disentuh, suaranya perlu didengar, dan kehadirannya perlu diakui.
Untuk kamu yang hari ini sedang tumbuh dan berjuang menyembuhkan luka masa kecil ini, ketahuilah bahwa caramu berelasi hari ini bisa diperbaiki patahannya. Kamu tidak harus memikul beban rumah sendirian, dan kamu berhak tumbuh menjadi pribadi yang percaya bahwa dunia ini masih menyimpan banyak tempat yang aman dan tulus untukmu.