Pada umumnya, orang tua terdiri dari ibu dan ayah, tak jarang ditemui hanya ibu atau hanya ayah. Ketidakhadiran salah satu orang tua dapat terjadi karena berbagai masalah, misalnya kematian, perceraian, dan bahkan ibu tunggal korban pemerkosaan. Ketidaklengkapan orang tua tentu akan membawa dampak pada perkembangan psikologi anak, baik itu perkembangan negatif maupun positif. Anak-anak berorang tua tunggal membutuhkan perlakuan yang berbeda dengan anak-anak yang berorang tua lengkap. Menjadi kewajiban orang tua dan masyarakat untuk memahami dan mendukung anak-anak berorang tua tunggal agar mereka mampu tumbuh dengan baik, mengingat mereka tidak memiliki keleluasaan seperti yang dimiliki anak-anak berorang tua lengkap.
Tidak semua anak yang diasuh dan dibesarkan orang tua tunggal tumbuh menjadi anak yang problematik. Tidak sedikit yang tumbuh menjadi pribadi yang lebih mandiri dan tangguh. Hal itu tentu tak lepas dari pola asuh yang diterapkan dan kondisi psikologis orang tua tunggal yang mengasuh, serta penyebab perpisahan orang tua. Kondisi psikologi orang tua tunggal karena perceraian tentu berbeda dengan perpisahan karena kematian dan akan sangat berbeda pula dengan orang tua tunggal korban pemerkosaan. Bagaimana perbedaannya? Mari kita bahas satu per satu!
1. Anak Korban Perceraian
Perpisahan orang tua acap kali meninggalkan luka psikologis mendalam pada anak-anak dan pada pasangan yang berpisah. Beban berat yang tiba-tiba harus dipikul sendirian ditambah masalah yang melatarbelakangi perceraian sering mengakibatkan frustrasi bahkan depresi. Dalam kondisi psikologis berantakan semacam itu, tentu sangat sulit menerapkan pola asuh yang baik dan tepat pada anak dan justru menjadi beban psikologis bagi anak. Tak jarang anak-anak korban perceraian mengalami masalah kecemasan, emosional, bersikap antisosial, dan bahkan depresi. Mereka juga merasa bersalah karena mengira perceraian orang tua adalah akibat dari ulahnya. Tidak semua anak broken home berperilaku negatif, ada juga yang mampu bertumbuh kembang dengan baik dan tetap memiliki ikatan emosional yang kuat dengan kedua orang tuanya, meskipun mereka telah berpisah. Kemampuan adaptasi anak-anak korban perceraian bergantung pada usia, kedewasaan dan kematangan mental, sekaligus bergantung pada kedewasaan dan kematangan emosi orang tua yang berpisah.
2. Anak-Anak yang Ditinggalkan Salah Satu Orang Tua karena Kematian
Tak pelak membuat anak-anak mengalami kehilangan besar dalam hidupnya dan menjalani proses perubahan besar yang tak mudah. Tak jarang proses kehilangan itu membuat anak-anak menjadi sosok yang mandiri, tangguh, dan berempati tinggi. Terbiasa melihat orang tuanya berjuang seorang diri, membuat anak-anak terkondisi untuk bersikap mandiri dan berusaha mengurus keperluannya sendiri yang membuat mereka lebih dewasa dalam berpikir. Ikatan emosional dengan orang tua tunggal yang mengasuh dan membesarkan juga menjadi lebih kuat, lebih dekat, terbuka, dan suportif. Anak menjadi lebih menghargai proses hidup, memiliki tingkat empati yang baik, dan mampu beradaptasi dengan berbagai perubahan situasi. Selain dampak positif, tentu ada dampak negatif yang diakibatkan. Biasanya anak cenderung mengalami kecemasan dan ketakutan ditinggalkan.
3. Anak-Anak dari Korban Pemerkosaan
Umumnya mengalami luka batin mendalam karena penolakan ibunya dan stigma negatif masyarakat. Trauma berat pada ibu karena pemerkosaan membuat ibu menolak kehamilan atau janin yang dikandung. Untuk itu dibutuhkan dukungan keluarga dalam memberikan ruang tumbuh kembang yang aman dan nyaman pada anak agar anak merasa dicintai, tidak merasa sebagai penyebab luka traumatis ibu, dan tidak menganggap dirinya sebagai aib. Keluarga harus memastikan rumah menjadi tempat yang aman tanpa kekerasan dan penelantaran. Jika terjadi luka batin mendalam sebagai akibat dari penolakan ibunya dan stigmatisasi masyarakat, maka wajib dilakukan rehabilitasi mental pada anak agar mampu dan siap beradaptasi dengan dunia luar. Perlindungan identitas anak juga sangat dibutuhkan untuk menghindari stigma negatif dari masyarakat yang akan membuat anak terpuruk. Anak yang lahir dari korban pemerkosaan memiliki hak yang sama dengan anak-anak yang lain. Mereka juga memiliki kebutuhan dicintai, dilindungi, dan diayomi yang sama dengan anak-anak lain.
Melihat dari kacamata tersebut membuat kita mengerti dan menyadari bahwa akan selalu ada titik tertentu yang menjadi pemicu (trigger) perkembangan psikologi seorang anak. Peran orang tua tunggal dalam mengasuh dan mendidik, serta dukungan dari lingkungan sekitar tentu krusial dalam perjalanan dan pertumbuhan jiwa sang anak. Mungkin, apa yang kita anggap sebagai problematik bisa jadi adalah cara anak berekspresi agar kebutuhannya dilihat dan didengarkan oleh orang dewasa. Saatnya kita hadir secara utuh untuk memahami dan mendengarkan suara hati kecil mereka, serta menyediakan ruang yang aman untuk mengoptimalkan tumbuh kembangnya.