SURABAYA — Berkurangnya waktu berkualitas karena orang tua sibuk bekerja dan anak yang tenggelam dalam gawai seusai sekolah, perlahan menyirna kehangatan rumah. Realitas modern ini kerap melonggarkan ikatan emosional antara orang tua dan anak. Di tengah renggangnya sekat komunikasi tersebut, aktivitas sederhana di meja makan sering kali terlupakan. Padahal, memasak dan makan bersama memiliki pengaruh besar untuk mendobrak dinding pembatas tersebut.
Di samping memenuhi nutrisi fisik, kegiatan ini juga merupakan ruang stimulasi psikologis dan tumbuh kembang anak. Namun, apakah sesederhana berkumpul di meja makan benar-benar mampu membentengi mental anak di masa depan?
menurut Psikolog Vera Itabiliana Hadiwidjojo, Waktu bersama keluarga tidak harus liburan pergi ke mana-mana, tapi cukup dengan aktivitas sehari-hari yang bisa dilakukan di rumah, salah satunya memasak. Melansir KlikDokter dan Halodoc, kolaborasi di dapur hingga meja makan ini memberikan segudang manfaat, mulai dari melatih motorik halus, mengasah keterampilan berhitung lewat takaran bumbu, hingga mempererat hubungan keluarga.
Secara ilmiah, keterlibatan di dapur juga ampuh mereduksi perilaku picky eating (pilih-pilih makanan) pada anak. Studi dalam jurnal Appetite mengungkapkan, anak yang ikut memasak mengonsumsi sayuran hingga 76 persen lebih banyak karena munculnya rasa kepemilikan dan kebanggaan. Sejalan dengan itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menekankan bahwa proses makan adalah ruang belajar dan interaksi. Saat dilibatkan sejak dari dapur, momen makan tidak lagi menjadi medan pertempuran urat saraf atau paksaan. Namun, sebuah aktivitas menyenangkan yang memicu rasa ingin tahu anak untuk mencicipi hasil karyanya sendiri.
Rasa bangga dari dapur ini kemudian bermuara di meja makan, tempat makanan berubah menjadi simbol emosional. Saat dikelilingi orang tua, anak menangkap sinyal bahwa mereka aman dan dianggap ada. Sebaliknya, makan sendirian memantik rasa terasing. Ironisnya, rasa tersisih ini juga bisa dipicu oleh jebakan menu yang dibedakan secara ekstrem. Ketika orang tua menyantap hidangan lezat sementara anak diberi menu khusus yang hambar atau secara visual kurang menggugah selera, anak akan merasa dikucilkan dari kelompok utama keluarga. Orang tua dapat menyiasatinya dengan menyamakan bahan dasar menu, tetapi membedakan tingkat kepedasan atau menghaluskan teksturnya jika anak masih dalam fase MPASI.
Kebersamaan ini terbukti menjadi investasi jangka panjang bagi kesehatan mental. Hal inilah yang mendasari BKKBN gencar mengampanyekan “Gerakan Kembali ke Meja Makan”. BKKBN menekankan bahwa kualitas interaksi keluarga yang tinggi—salah satunya lewat makan bersama 20 menit tanpa gawai—menjadi fondasi utama benteng psikologis anak. Dengan interaksi yang sehat, remaja akan lebih tangguh menghadapi stres dan meminimalkan risiko pelarian negatif seperti tawuran hingga penyalahgunaan narkoba.
Tantangan kesibukan modern ini dapat disiasati dengan memanfaatkan waktu makan malam atau akhir pekan, serta menerapkan meal prep (menyiapkan bahan di hari libur) agar proses memasak di hari kerja lebih singkat. Jadi, mari letakkan gawai, matikan televisi, dan kembali berkumpul di meja makan demi masa depan anak.